translate

Minggu, 26 Agustus 2012

HARI KEDUA PSG SMKN 9

  Seminggu sudah anak SMKN 9 PSG di cahaya computer namun masih jauh jalan yang harus ditempuh,Pembelajaran dan pengalaman yang diasah harus semakin ditingkatkan.
   Kunci sukses Pendidikan seseorang ditentukan oleh kedislinan diri,Pencarian diri,dan inovasi ....
selebihnya memory yang dipunyai....
Tak banyak yang dapat aku tuliskan.......hanya ini saja seekdar pengenalan.......

Sabtu, 25 Agustus 2012

MINAL AIDZIN WAL FA IDZIN

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

     Wahai Saudara - saudaraku dimanapun Anda berada, Kami hanyalah debu kotor yang tak mempunyai kelebihan apa- apa,kami... Kyai djawan samudro hanyalah manusia yang banyak salah dan dOSA.
TAK PANTASLAH kami untuk anda semua.
    Tiada yang kami punyai selain kesederhanaan dan rasa patuh kepada Guru - guru kami,dimanapun mereka berada , di moment yang penuh berkah ini " KYAI DJAWAN SAMUDRO " mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri " minal Aidzin wal faidzin " mohon ma'af lahir dan batin ,syawal 1433 H, semoga selama sebulan telah kita lalui bisa membias untuk 11 Bulan kedepan, semoga.....



Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Kyai Djawan Samudro

Minggu, 19 Agustus 2012

KITAB PANGIWO PANENGEN III


KITAB PANGIWO PANENGEN JILID III

          Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Seperti kita ketahui bersama – sama bahwa Kitab Pangiwo –Panengen ini adalah merujuk pada Kitab – Kitab Keraton  yang ditulis oleh Padmo Susastro dan dikembangkan penulisan bahasanya oleh Kyai  Djawan Samudro dan Ibu Endang Permata Asri sehingga Penulisan Kitab ini memakan waktu berbulan – bulan maka dari itu kami “ Kyai Djawan Samudro beserta Ibu Endang Permata Asri “ menghimbau untuk pengemar Kitab – Kitab langka untuk bersabar menanti Tulisan – tulisan kami berdua. Disamping menunggu pengumpulan juga karena terbatasnya dana untuk penulisan Kitab – kitab ini , maka saya sangat bersyukur terkadang ada diantara saudara – saudara yang ingin kelanjutan penulisan dengan memberikan uang lelah untuk menulis walaupun jumlahnya tidak seberapa namun kami sangat senang karena masih ada yang perduli dengan jerih payah kami berdua.
             Mudah – mudahan untuk jilid – jilid berikutnya kami akan menulis kembali kelanjutan dari Kitab pangiwo panengen yang aslinya berbahasa djawa kami indonesiakan dengan penambahan sedikit disana sini , Tak ada kesempurnaan yang kami punyai ,hanya kebodohan  dan kekurangan yang kami miliki.
             Terima kasih Mas tatang di Bekasi juga Ibu ida ayu Di Bandung juga Mbak Endang Permata asri malang yang menyempatkan menulis dan mempopulerkan tulisan – tulisan Djawa Kuno yang jarang diperhatikan oleh Generasi – generasi Bani Djawan ( Bangsa Djawa khususnya ) dan Masyarakat Indonesia pada umumnya.
             Kehidupan manusia tidak terlepas dari sejarah masa silam datang silih berganti yang dulu jaya terakhir terhina yang dulu dijajah kembali merdeka.
             Penulisan Kitab Pangiwo – Panengen ini masih banyak kekurangannya untuk itu kritik maupun saran silahkan anda kirimkan ke cahayapakis@gmail. Com atau melalui www//kyai djawan samudro.com. atau facebook @nurkhozin sholikhan juga bisa sms ke 085855943968/083848154804.

             Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

             kyai djawan Samudro


            
             Seusai zaman es II AIR BAH TELAH mulai surut di beberapa daratan yg mana benua HINDIA  telah tiada menjadi benua ASIA dgn bentuknya yg berubah total tak seperti  masa sebelum datangnya gletser mencair, benua HINDIA putus menjadi beberapa daratan terbawa arus air lautan mengalir yani  nenjauh ke selatan  menjadi benua ANTARTIKA  , AUSTRALIA Dan beberapa pulau – pulau  kecil – kecil pada  lautan pasifik ,sebagian menjadi daratan yg ter pecah – pecah menjadi negara   dalam lautan HINDIA dan lautan FASIFIK yg mana seakan – akan  nama – nama  negara – Negara  tersebut hanya sebuah nama saja padahal dulu- dulu nya memang ada negara HASTINA yg terletak di negara HINDIA sewaktu di pegang oleh raja YUDAYANA anak prabu PARIKESIT masih negara besar  yg berwibawa tapi setelah tertutup air bah sementara waktu dan prabu YUDHAYANA telah meninggal dunia , kekuasaan di pegang baru yg lebih maju dan makmur pd akhirnya prabu Sendrayana memindahkan kerajaanya ke WIDARBA /INDIA belakang kini daerah gujarat dan bekas HASTINA diberikan kepada nya kepada adik nya yakni  SUDARMANA  Prabu Gendrayana mempunyai anak 9 orang putra- putri yg menggantikan tahta ayah nya adalah R NARAYANA bergelar PRABU JAYA PURUSA dan menjalankan kekuasaan di kerajaan widarba [HINDIA  belakang gujarat ] Prabu Narayana /prabu Jaya purusa sangat bagus dan sangat di cintai rakyatnya sebab beliau rendah hati dan jujur dan bijaksana beliau lebih banyak mandito [melaksanakan laku kependetaan ]dari pada tinggal dalam istana beliau lebih banyak berkumpul dan berjalan – jalan  di tengah rakyat jelata juga sering mengunjungi negara- Negara tetangga nya secara kekeluargaan hingga  seluruh raja – raja   di wilayah INDIA /sanagat mencintainya akhirnya hampir semua penduduk HINDUSTAN /INDIA menyambutnya titisan Batara wisnu dengan sebutan yang begitu mulia beliau sangat risih karena tidak pernah merasa sebagai dewa /bahtara, akhirna untuk menghindari julukan – julukan  tinggi seperti itu beliau memutuskan untuk lebih menekuni dunia  kependetaan dan mengalahkan hatinya sendiri seluruh tahta beliau serahkan kepada adik laki - lakinya Raden Dipayana /Harya Prabu dan beliau pergi meninggalkan daratan INDIA [Hindustan ] dan berlayar menuju daerah dimana daratan INDIA dulu berasal dan bergandengan menjadi satu yakni  Pulau Jawa karena ada glester mencair mengakibatkan daratan INDIA terpecah dengan P jawa  di PULAU jawa beliau berkelana dari negeri yg satu ke negeri  yg satu nya untuk melaksanakan dharma menyebarkan kebaikan – kebaikan  sewaktu berada di kerajaan Daha /Kediri [PANJALU  JAYATI ]beliau di ambil menantu oleh raja kediri yakni Prabu Kameswara 1 dinikahkan dengan  putrinya yakni Dewi Sari setelah raja kameswara 1 tua renta R. Narayana mengantikannya menjadi Raja Kediri bergelar Raja Kameswara II namun lebih terkenal karena tulisan – tulisannya mengenai ramalan – ramalan jaman akan datang yang beliau ambil dari intisarinya seluruh kitab – kitab agama – agama di dunia beliau tuangkan dalam bentuk sastra tembang yang terkenal dengan sebutkan ramalan jajabaya.
Prabu Jayapura / Kamesmara II mempunyai istri permaisuri Dewi Sari binti Patah Sutiksa mempunyai anak 4 orang,3 orang dan 1 putra,yang melanjutkan menjadi raja di Kediri adalah Prabu Jayawijaya / Kamesmara III mempunyai isteri permaisuri bernama Dewi Satapi binti Hajar Subrata (pendeta gunung padang Jawa Barat) dan mempunyai 2orang anak laki – laki.
             1.Prabu Jayamisena menjadi raja di Mamenang / Kediri.
             2.Prabu Jayakusuma menjadi raja di Matahun / Ngawi.
Prabu Prabu jaya misena / Mamenang – Kediri mempunyai 2 orang anak lelaki yakni:
             1.Raden Kiswara/Raden Alidrawa/Prabu Kusumawicitra – kemudian pindah ibukota ke pengging wiharadiya (yogyakarta)
             2.Dewi Kiswasi/Hondrawala menikah dengan putra mahkota Matahun yakni Raden Jaya Susema.
Prabu Kusumawicitra (bribukota pengging) mempunyai 2orang istri yakni:
-          Dewi Soma binti Prabu Jayakusuma – Matahun
-          Dewi Daruki binti Hajar Kapyara (pendeta dari Banyuwangi)
Prabu Kusumawicitra mempunyai anak 6 orang yang menjadi raja adalah Prabu Citrasoma di Pengging/Yogyakarta, beliau mempunyai istri permaisuri Dewi Sriyati binti Resi Sidhiwacana dari Gunung Merbabu – Jawa Tengah dan mempunyai anak 5 orang yang menjadi raja adalah Raden Pancadiyana, namun karena beliau lebih memilih menjadi pendeta dan menikah dengan bidadari cantik bernama Dewi Laksmita, hingga tahtanya diberikan kepada adiknya yang bergelar Prabu Paweadrya.
Prabu paweadrya bergelar Resi Paweadyana hidup bersama istrinya Bidadari Dewi Laksmita di Gunung Mermabu.
             Prabu Paweadrya (adik Resi Pawedyana) di Pengging mempunyai permaisuri Dewi Gundawati binti Prabu  Jayamisena (Angling Darma) di kerajaan Malwapati/Kabupaten Bojonegoro mempunyai 4 orang anak.Yang menjadi raja adalah Raden Saputra / bergelar raja Dewakusuma/Prabu Dewanata di kerajaan Pengging atau Prabu Anglingdrya.

Prabu Anglingdrya mempunyai 2 istri :
-          Dewi Soma binti Resi Pawedyana yang beristri bidadari Dewi Laksmita
-          Dewi Sinta binti Resi Wirahaspati pendeta Gunung Cangkring yang beristri bidadari.
Prabu Anglingdrya mempunyai 3 orang anak,yang menjadi raja adalah Prabu Suwlacala yang berwilayah di Medhangkemulan(wilayah Jawa Tengah Utara dan Jawa Timur selain Kerajaan Malapati / Bojoegoro).
             Prabu Suwelacala mempunyai permaisuri Dewi Darmastuti binti PrabuWindhajaka mempunyai anak 5 orang. Yang menjadi raja adalah:
Prabu Sri Mahapunggung (Raden Jaka Kandhuyu) Menjadi Raja mempunyai ibukota di Purwarita (Purwakarta .– Jawa Tengah).
Prabu Sri Mahapunggung beristri permaisuri Dewi Wara Surastri binti Prabu Pandayanata,mempunyai anak 7 orang, yang menjadi raja adalah Raden Subrata atau Resi Jatayu bertempat tinggal di Jenggala (Shingasari).
Resi Jatayu mempunyai 5 orang istri dan mempunyai 6 orang anak,yang menjadi raja adalah Raden Harya Jayengrama bergelar Prabu Lembu Amiluhur di kerajaan Jenggala,mempunyai 6 orang istri dan mempunyai istri selir sebanyak 40 orang dan mempunyai anak 100 orang.
Yang menjadi raja adalah Raden Putra bergelar Prabu Suryawasiya di kerajaan Jenggala.
Nama Raden Putra banyak sekali karena sering menyamar berkelana mendekati rakyatnya lebih dekat, diantara namanya:
-          Raden Panji Kasatrian
-          Raden Priyambada
-          Raden Kudarawisrengga
-          Raden Dhawuhmarna
-          Raden Wirenghulung
-          Raden Panji Wanengpati
-          Raden Kelana Jayengsari
-   Raden Asmarabanangun (R.ande – ande lumut) yang menikah dengan Putri cantik Dewi Galuh Candrakirana dari Kediri atau klenting kuning.Makam Klenting Kuning berada di bukit Wringin Sapta sebelah Bendungan Selorejo – Desa Ngantang – Kota Batu – Kabupaten Malang.
Prabu Suryawisesya / Raden Panji Asmarabangun mempunyai permaisuri Dewi Galuh Candrakirana dan mempunyai 7 orang istri selir dan mempunyai 8 orang putra,yang tertua namanya:
                Raden Nawang terkenal dengan kisahnya sebagai Raden Panji Semirang. Dan yang menjadi raja adalah yang nomer 2 yakni:
                Raden Lambang bergelar Prabu Surya Amiluhur raja Jenggala dan setelah pindah ke Pajajaran/Jawa Barat berganti nama menjadi Prabu Mahesa Tandreman. Prabu Mahesa Tandreman mempunyai 5 orang istri dan yang menjadi raja adalah Raden Jaka Saputra/Raden Lembu Pangersa di kerajaan Pajajaran dan setelah menjadi raja bergelar Prabu Banjarsari di Galuh – Pajajaran.
             Raja Banjaransari Dengan Permaisuri Dewi Sri tatayi mempunyai Anak prabu Munding wangi meneruskan tahta ayahnya menjadi raja Di Kerajaan Galuh pajajaran – Jawa Barat.
             Raja banjaransari mempunyai 25 Orang Istri Selir dan diantara Selir – selirnya tersebut terdapat 6 Orang Bangsa Bidadari yaitu :
1.       Bidadari ratna Kencana suradiwati
2.       Bidadari Herawati Hapsari
3.       Bidadari nawang Arum / Ismayawati
4.       Bidadari Mayang Arum / Ismarawati
5.       Bidadari mayang taruna / Ratnawati
6.       Bidadari Sulendrawati/ Ratu Ayu Galuh
Seluruh anak – anak Prabu banjaransari ada 76 Orang diantara 76 orang tersebut yang menjadi Raja adalah Prabu MundingSari , beliau mempunyai 6 Orang putra – putri  yang mengantikan beliau menjadi raja adalah anak ke 1 yaitu Mundingwangi  sedangkan anak banjaransari  yang No 5 ( lima ) adalah Silahwangi menjadi raja pada kerajaan Maja.
Sedangkan anak yang No 6 ( enam ) adalah Prabu Siliwangi menjadi Raja di Kerajaan Kuningan ( kini Kab. Kuningan dan kabupaten Majalengka )
             Dari garisnya Prabu Silinwangi inilah menurunkan raja – raja pada kerajaan – kerajaan Sunda – Jawa barat
             Prabu Mundingwangi ( raja Galuh pajajaran ) anak raja Banjaransari yang tertua menikahi Dewi sataman ( Putri Pendeta dari Ujung Kulon ) mempunyai 12 Anak dan yang mengantikan ayahnya adalah R. sesuruh atau Prabu harya Tandreman.
             Diantara 12 Orang anak – anak Raja Mundingwangi tersebut adalah 1 ( satu ) orang yang mengikuti agama Islam yaitu Raden harya margana namun beliau diusir dari istana dan harus keluar dari kerajaan galuh pajajaran ,beliau pergi da berganti nama menjadi susuhunan Atas angin atau Pangeran Atas Angin .
             Pada waktu itu hampir separuh bumi dibawah kekuasaan kekalifahan Islam yang dipimpin oleh Dinasty Abbasyiyah berpusat di Bagdad  atau Irak. Dinasti Abbasiyah adalah anak cucu dari sayyidina Abbas ra. ( Paman nabi Muhammad SAW ) yang paling cerdas diantara sahabat – sahabat nabi SAW.
Dinasti Abbasiyah datang dari Arab Saudi ( Hejaz ) menuju Bagdad dan berhasil mengalahkan Dinasti Muawiyah bin Abi Sofyan ( Keturunan Abu Sofyan , orang – orang Arya atau Irak yang menjadi Bankir kaya raya di tanah Hejaz atau Arab ) dan berkhianat pada Kholifah Ali Bin Abi Thalib ra dengan jalan mendirikan Dinasti Muawiyah di tanah asalnya Bagdad atau Irak ( Bekas Negara Babilonia ).
             Dengan kekuasaan militer tanpa persetujuan suara rakyat ( tidak seperti cara Khulafaur Rosidin ) sahabat nabi sebelum munculnya Rezim Muawiyah )
             Kekuatan Nomer dua setelah Dinasti Abasiyah adalah kekaisaran Cina atau Tiongkok selanjutnya Nomer 3 adalah Negara –negara yang terpecah belah berdiri sendiri – sendiri yang mana di P. Djawa hanya ada satu Negara Besar yaitu Kerajaan Singasari yang dipimpin oleh Raja Kertanegara ( Buyut dari Sang Akuwu Tunggul  Ametung dan Ratu Ken dedes ) dan banyak Negara – Negara kecil salah satunya adalah Galuh pajajaran.
             Pada masa Dinasti Abbasiyah berkuasa banyak para sufi dan para Pendakwah – pendahwah Agama Islam dengan aman berkeliling di Bumi memasuki Negara – Negara yang belum mengenal agama Islam termasuk di P. Jawa.
             Setelah keluar dari Istana Pajajaran , Pangeran Atas Angin banyak berguru pada para sufi yang dating ke Pulau jawa sambil berdagang hingga pangeran Atas Angin mengikuti langkah hidup berhakekat dan mencapai Ma’rifatullah , makam beliau terawatt rapi sampai kini di belakang Pengimaman Masjid Agung Demak – Jawa Tengah.
             Sedangkan dari 12 Orang anak Prabu Mundingwangi yang menjadi raja adalah Raden harya tanduran ( R. sesuruh ) namun beliau pergi dari ayannya dan lebih senang mengabdi kepada Raja Singhasari di Jawa Timur yakni Raja Kertanegara dan Tahta pajajaran beliau serahkan kepada adiknya yakni Raden Siung wanara atau Raden banyak Widhe.
             Raden Siung Wanara adalah Nama diwaktu menjadi raja pajajaran namun setelah cucu keponakannya yakni Pangeran Han – han atau Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit , beliau Raden Siung Wanara sering dimintai bantuan oleh Raden Wijaya untuk tugas memimpin armada Angkatan Laut majapahit keluar Pulau Jawa, yang mana disaat mengemban tugas tersebut bergelar nama Laksamana AL Banyak widhe , dan bila selesai mengemban tugas pulang kembali ke Pajajaran menjadi raja bernama R. Siungwanara.
             Raden sesuruh atau Prabu Harya Tanduran berganti nama menjadi Bra Tama atau Bra Tala , dan mempunyai 2 Orang istri dan yang seorang tidak mempunyai anak dan yang seorang lagi berasal dari Negeri Tiongkok atau Putri Cina yang bernama Putri Kian.
Dengan Putri Kian mempunyai 5 Orang Anak :
1.       Raden jaka manguri Atau Prabu Anom
2.       Dewi   Pamedarsih atau rara mandar menikah dengan Nahkoda kapal laut dari Hejaz ( arab ) bernama Sayyid Abdurrohman Adzimat Khan dan menjadi adipati Tuban bergelar Arya Teja.
3.       Dewi Murdaningkung menikah dengan Raja di Pulau Bali
4.       Dewi Murikangen menikah dengan Raja dari Kerajaan Banjarmasin – Kalimantan Timur
5.       Prabu Bra Kumara menikah dengan Putri dari Tiongkok yang bernama Putri Ding – ding dan mempunyai 2 orang anak yakni :
I.                    Putri Yo Gan, menikah dengan prabu Bra Tandriya raja Pengging
II.                  Pangeran Han – han atau Raden Hananingkung  atau harya Bra Wijaya , beliau mengantikan ayahnya menjadi Raja di Majapahit kecil ( Wilayah tarik Sidoardjo , Gempol, japanan, pandaan dan Hutan Mojo ( Mojokerto )
             Pada Masa raja Kertanegara gugur diserang oleh Raja Jayakatwang dari Kerajaan Kediri beserta Pasukannya dan singasari menjadi jajahan kerajaan Kediri, Raden Wiajya berkelana dengan memakai nama samaran . Dengan memakai nama Raden Nararya menggalang rasa persautuan antar kadipaten untuk mencari cara bagaimana caranya leaps dari penjajahan kerajaan Kediri, beliau mendengar kabar bahwa kaisar Khu bi lai khan hendak menuntut balas atas kematian utusanya yang sebagian di bunuh dan sebagian dibuat cacat oleh Raja Kertanegara sewaktu kaisar Khu Bi Lai Khan mengirimkan rombongan Ekspedisi nya ke kerajaan Singosari.
             Supaya keluarga Raja Kertanegara tidak bercerai berai dan supaya tidak dibunuh oleh Orang – orang dari Kerajaan Kediri maka ke 4( empat ) Putri Raja Kertanegara ( karena Raja Kertanegara tidak mempunyai anak laki – laki ) maka ke empat orang itu dinikahi semuanya oleh Raden Wijaya dan dijamin keamanannya.
             Menjelang kedatangan tentara Tartar yang dipimpin oleh Jenderal I kimese dan Jenderal Wengki oleh Raden Wijaya beserta pengikut – pengikutya ke empat istrinya diungsikan ke pulau Madura dan dilindungi oleh Adipati Arya Wiraraja ( Ayah Raden Ronggolawe )  beserta seluruh Rakyat Madura.
             Dengan bantuan Prajurit – prajurit Singasari serta bantuan dari Kerajaan Pengging ( Ayodyakarta ) sebab Raden Wijaya mempunyai istri dari Kerajaan Pengging dan pasukan bantuan dari Pulau Madura yang dipimpin oleh Panglima Lembu Sora ( adik Arya Wiraraja ) dan panglima muda Ronggolawe, kesemuanya siap berjuang untuk lepas dari cengkeraman Kerajaan Kediri.
             Akan tetapi Raden Wijaya siap dengan siasat nya yang lebih tepat yaitu menyambut kedatangan pasukan tartar dengan baik dan ditipunya bahwa anak dari Prabu Kertanegara adalah Pangeran Ardharaja Raja Kediri ( Anak Raja jayakatwang ) dan harus dihancurkan total rata dengan tanah.
             Dengan Tipu muslihat yang halus serta semangat ingin membalas dendam atas penghinaan raja Kertanegara ,mereka semua mengikuti apa saja yang diutarakan oleh Raden Wijaya dan berangkatlah Armada tentara Tar tar melewati Sungai Brantas menuju Kediri.
             Taktik yang dijalankan begitu sempurna sehingga tanpa ampun Kerajaan Kediri dihancurkan tanpa sisa oleh Pasukan Tar tar, sehingga tak satupun Peninggalan Kerajaan Kediri yang tersisa.
Bumi hangus yang diterapkan Pasukan tar tar membuat mereka mabuk kemenangan sehingga dengan mudah Raden Wijaya mempersiapkan Taktik nya yang kedua.
             Setelah berpesta pora , bergembira tiada batas dengan suguhan – suguhan yang telah dipersiapkan mereka sudah tak ingat lagi ,maka dengan mudahnya mereka dilumpuhkan oleh Pasukan –pasukan gabungan hingga banyak tentara tar tar berlarian ke pelabuhan Ujung galuh , sedangkan disana mereka disambut oleh Tentara – tentara Madura dan dibantai habis – habisan . Pada daerah Pintu air jagir – ujung Galuh ( Surabaya ) pasukan Tar tar hancur Total pada Tanggal 21 Mei 1293 M dan segelintir kapal lautnya yang kembali ke Tiongkok.
             Dengan hancurnya Kerajaan Kediri serta Kemenangan yang didapat oleh Raden Wijaya sehingga diumumkanya bahwa telah berdiri Kerajaan Majapahit pada Tahun 1243 M dengan Rajanya yang bergelar “ Prabu Sang Rajasa Sanggramawijaya  “dengan permaisurinya Putri Raja Kertanegara yang tertua yaitu :
1.       Ragapadmi Tribuwana Gayatri Sang Nareswari serta adik – adiknya menjadi selir R. Wijaya
2.       Pradjna Paramita
3.       Narendraduhita
4.       Mahendradatta
Sebelum menikah dengan Putri – putri Kertanegara Raden Wijaya telah menikahi Putri Raja Pengging dan Putri Adipati Tuban. Setelah itu Raden Wijaya menikah lagi dengan putrid dari Melayu ( Kiriman ekspedisi Pamalayu ) yaitu Putri Dara Pethak dan Dara jingga, yang mana dara petak Putri Indraswari.

“ Sekian dulu untuk Kitab Pangiwo – panengen Jilid  III , mudah – mudahan bisa bermanfat dan tunggu Jilid IV akan segera tayang
















 

Rabu, 15 Agustus 2012

WALI SONGGO

      WALI SONGO adalah sebuah cerita asli ,bukan sebuah Sinetron picisan, didalamnya adalah kejadian nyata sebuah sejarah perjuangan Jihad fi sabilillah Orang - orang pilihan baik dari negeri Gujarat, Arab Saudi, Turki, India, Cina dan tentunya Penduduk Lokal Indonesia jadi untuk para Sineas janganlah Sejarah WALI SONGO dijadikan sebuah cerita yang dibumbui dengan cerita - cerita vulgar
   WALI SONGO adalah Mujahid sejati yang didalamnya tertanam Jihad fi Sabilillah tanpa ada tendensi ketenaran dan pamrih -pamrih duniawi, Wali Songo adalah Pejuang Islam yang namanya terus berkibar tak lapuk di makan usia dan zaman.
   Untuk generasi muda dan generasi tua tanamkanlah Syi'ar Islam ke penjuru Dunia tanpa mengenal lelah dan bosan karena Islam adalah agama final yang tak membutuhkan perjanjian baru maupun lama, Islam tetap sama mulai dari nabi Muhammad SAW sampai akhir zaman.
   PEJUANG WALI SONGGO adalah sebuah Organisasi Da'wah Islamiyah yang menyebar dengan damai tanpa paksaan , semoga tulisan ini bisa bermanfaat,




Kyai Djawan Samudro

PUASA ROMADHON DAN NAFSU DUNIAWIYAH

       Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.....

 Sebulan Penuh kita menahan diri dari hawa nafsu ,makan, minum, bersetubuh di Pagi hari serta menahan dari segala macam godaan Nafsu, namun usaha yang kita lakukan seperti sia - sia belaka, betapa tidak ! di hari - hari terakhir kita puasa banyak kita lihat pemandangan di sekitar kita, banyak dari remaja - remaja yang sudah tidak sukan - sukan lagi makan dan minum di jalanan, para ibu - ibu berbondong - bondong memborong segala macam makanan , minuman , pakaian secara berlebihan.
     Usaha yang telah kita lakukan bagaikan pepatah " Kemarau Setahun Hilang ditelan Hujan seharian " , rugi kita telah bersusah payah bangun di malam hari, taraweh,tadarus, berbuat baik kepada orang lain hilang sekejab tak berbekas.
    Puasa Romadhon adalah training kita untuk 11 Bulan berikutnya, jangan merasa kita telah berhasil mengalahkan hawa nafsu kita namun hasil yang kita capai ternyata Nol ( kosong ) , jadikan hari - hari kita adalah romadhon setiap saat.
   Mari kita INTROPEKSI diri dan belajar menasehati diri sendiri, agar menjadi hamba - hamba yang mutaqin, Amin Ya robbal alamin.


Wassalamu'alaikum  warrahmatullahi wa barokatuh.



Kyai Djawan Samudro 





KITAB PANGIWO PANENGEN JILID IV

PANGIWO – PANENGEN JILID  IV

Alhamdulillahi robbil alamin telah selesai penulisan Kitab Pangiwo Panengen jilid IV
Mudah – mudahan penulisan ini bisa membuka mata hati kita bahwa bangsa Penjajah khususnya Belanda telah menutupi Penulisan Perjalanan Sejarah Bangsa Besar yaitu INDONESIA RAYA yang merupakan sejarah perjuangan WALISONGO Dan Akar Sejarah MAJAPAHIT yang saling berkesinambungan dengan AGAMA ISLAM yang Mayoritas dianut oleh Bangsa INDONESIA, maka wajarlah bahwa sejarah harus kita ingat selamanya darimanakah kita ,siapakah Bangsa Indonesia sebenarnya.bahkan Presiden kita Pertama Ir. Soekarno dalam pidatonya yang terkenal dengan JASMERAH ( jangan sekali – kali meninggalkan sejarah )
Kerajaaan majapahit dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas hampir seluas Asia Tenggara dengan ibukotanya kutaraja mojokerto (kini kabupaten mojokerto) dengan rajanya Prabu Rajasa Sanggrama Wijaya Jayawisnu Wardhana (Raden Wijaya) tahun 1293m – 1309m beliau mempunyai permaisuri dengan beberapa selir.Beliau dengan permaisurinya Ragapadmi Tribuana Gayatri (putrinya Prabu Kertanegara raja Singhasari) mempunyai 2 orang putri yang terkenal cantik - cantik yaitu:
1.Putri Tribuwana Tungga dewi Jayawisnuwardhani(menjadi ratu majapahit menggatikan  
abangnya Prabu Jayanegara yang terbunuh di usia muda)
2.Putri Dyah Sri Rajadewi (menjadi adipati di Kediri)
Raden Wijaya dengan salah satu selirnya Dharapethak/Indreswari mempunyai anak laki - laki Prabu Jayanegara yang terbunuh oleh tabib/dokter pribadinya pada usia 25 tahun.Kemudian kerajaan majapahit di pegang oleh adiknya yakni Ratu Tribuana Tunggdewi Jayawisnuwardhani,mulai memegang negara umur 17 tahun (tahun 1328m – 1350m) yang menikah dengan perwira muda majapahit Pangeran Cakradara dan mempunyai anak laki - laki yakni: Prabu Hayam Wuruk (Brawijaya III tahun 1350m – 1389m).
Di bawah kekuasaan Prabu Hayamwuruk,majapahit maju pesat sejak majapahit Gajahmada bersumpah ,,Amukti Palapa,, yang beliau ucapkan pada masa iburaja Hayamwuruk berkuasa (tribuana tunggadewi) Prabu Hayamwuruk menikah dengan permaisuri putri Indidewi (berasal dari tiongkok) mempunyai 1 orang anak yakni: 1.Putri Srigitarja yang menikah dengan seorang pendeta muda yakni Hyag Wekas ing Syoka/wisesya.
Ratu Srigitarja Jayawisnuwardhani memerintah kerajaan majapahit pada tahun 1389m – 1344m dimulai pada usia 15 tahun.Kemudian beliau wafat dan digantikan oleh suaminya sambil menunggu anaknya dewasa.Suaminya Ratu Srigitarja Hyag Wekas ing Syoka berkuasa tahun 1344m -1477m disebut Brawijaya IV.Ratu Srigitarja dengan Hyag Wekas ing Syoka/Brawijaya IV mempunyai 2 orang anak yaitu :
1.Putri Suhita/Kencana Ungu 1428m – 1447m
2.Pangeran Kertabhumi/Kertawijaya (1447m – 1450m) Brawijaya V
Setelah kedua orang tuanya meninggal,Putri Kencana Ungu memerintah pada usia 16 tahun bergelar Ratu Suhita(th 1428m – 1447m)yag terkenal jelita se-Asia yang hampir setiap hari bertapa dalam sumur di Keputrenya untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa karena beliau seorang gadis dan tiada kedua orangtua,bersamaan setelah mulai banyak pemberontakan dari wilayah yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mojopahit.Namun semuanya itu malah kalah tangguh dengan pasukan - pasukannya Majapahit yang masih kuat - kuat dan mempunyai pos - pos di ujung barat yakni Tumasik (Si ngapore),Pahang(malysia) hingga ujung timur yakni Swarna Bumi Patani (kini Pogrisi Thailand Selatan) Moro (Fhilipina Selatan) hingga pesisir P.Jawa sebelah selatan.
Pemberontakan yang paling hebat adalah pemberontakan dari sebelah timur P.Jawa yakni dari Kabupaten Blanbangan yang di pimpin oleh Bre Wirabumi (Raden Menak Jinggo/putra dari Bre Wira Kramawardhana)masih saudara sepupu dari Ratu Suhita/Kencana Ungu sendiri.Bre Wirabumi ingin menguasai seluruh Majapahit dengan jalan ingin menikahi Ratu Suhita sendiri akan tetapi Ratu Suhita tidak mau dan tak ingin menyerahkan tahtanya kepada siapapun.Akibatnya Bre Wirabumi/R.Menak Jinggo menyiapkan pasukan besar - besaran untuk menghancurkan majapahit dan mengambil alih tahta Ratu Suhita yang mana  Bre Wirabumi terkenal sakti mempunyai senjata dari tiongkok berupa gada besikuning yang sekali angkat saja langsung berpuluh - puluh orang meninggal.
Hal tersebut sangat  merisaukan hati Ratu Suhita beserta seluruh pejabat - pejabatnya dan mencari cara bagaimana menghancurkan Bre Wirabumi sebelum berangkat keluar Blanbangan menuju Kutaraja Majapahit Ratu Suhita pada masa itu masih berumur 19 tahun setiap hari bertapa dalam sumur keputrenya memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa supaya ada wagsit/wahyu tentang siapa/bagaimana cara menghancurkan Bre Wirabumi.
Jadi masa itu di ujung P. Sumatra diam - diam telah berdiri kerajaan kecil dengan rajanya beragama islam yakni Kerajaan Samudra Pasai (kemudian menjadi Kesultanan Aceh) yang didirikan oleh Da’I (pendakwah islam) sambil berdagang dari Rusia Selatan yakni Ibnu Basurah.Walaupun kerajaan kecil sangat makmur dan aman dengan penduduknya sebanyak para pedagang - pedagang dari Arab(A), China(C), Eropa(E) Hindustan(H),dari singkatan huruf - huruf tersebut di jadikan satu menjadi ACEH.
Bersamaan masa itu kekhalifaan islam masih kuat masih di pimpin kesultanan turki dan perokonomian maju pesat hingga para pendakwah islam dengan leluasa menyebar di bumi sambil berdagang dan banyak yang mempunyai pos – pos pedagang sampai di P.Jawa dan lebih - lebih sampai di P.Madura,yang mana di P.Madura telah banyak pesantren - pesantren walaupun kecil - kecil.
Di daerah pengging (kini Jogjakarta/Yogyakarta) pada daerah Talun Ombo/Talun Amba/Paluamba di mana seorang pemuda bernama Sayyid Alwi Adzimat Khan merantau meninggalkan daerahnya menuju Kutarajasa Majapahit menuju rumah paman tertuanya yang menjadi patih sepuh/tua Kerajaan Majapahit yakni Patih Damarmanik Karna Alwi A. Khan sangat ingin menjadi salah satu prajurit Majapahit sebab Alwi A. Khan ingin berbakti pada negara dan merasa mempunyai bekal ilmu baik kanuragan kedigdayaan maupun ilmu kesatriyaan yang pernah di pelajarinya pada beberapa perguruan.
Tak lama tinggal pada Patih Damarmanik ,Alwi A.Khan sangat berduka karena paman tertuanya tersebut meninggal dunia namun dia dititipkan pada adik ipar pamannya yang menggatikan menjadi patih kerajaan yakni Patih Logender.Beliau sangat sayang pada Sayyid Alwi karena semangat ingin berbakti pada negara,di perlakukannya sangat baik oleh Patih Logender.
Selama tinggal di Kutaraja Mojokerto,orang - orang Majapahit memanggilnya dengan panggilan Raden Damarwulan karena wajah dan fisiknya sangat rupawan berkulit bersih bagaikan bulan purnama.Yang mana Patih Logender mempunyai 2 orang anak laki - laki kembar yang umurnya sama dengan Raden Damarwulan yakni Raden Layangseta dan Raden Layangkumitir ,dan seorang anak wanita yang sudah remaja bernama Dewi Anjasmara 2 pemuda kembar Patih Logender tersebut sangat iri hati pada Raden Damarwulan,hingga 2 saudara kembar tersebut melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan nama baik Raden Damarwulan baik itu dengan cara fitnah dan sebagainya.Hingga terjadilah fitnah yang mana Raden Damarwulan harus mendekan di dalam penjara,semuanya itu di laluinya dengan sabar,Patih Logender semakin kasihan melihatnya.
Suatu hari Kerajaan Majapahit mengumumkan Sayembara /perlombaan setelah Ratu Suhita/Ratu Kencana Ungu mendapat wangsit/wahyu dari Yang Maha Kuasa tentang siapa yang bisa mengalahkan Bre Wirabumi dan menyelamatkan kerajaan.
Isi sayembara tersebut adalah siapapun yang mengalahkan Bre Wirabumi dan membawa kepalanya kehadapan Ratu Suhita,jika laki - laki akan di jadikan suaminya,jika perempuan akan di jadikan saudari terdekatnya dan di jamin hidupnya oleh istana Kutaraja.
Inilah jalan terbaik bagi Raden Damarwulan,Patih Logender menyuruh Raden Damarwulan untuk mengikuti sayembara tersebut. Siapa tahu bisa merubah nasibnya.Terjadilah perang besar yang disebut dengan perang undur - undur antara Kerajaan Majapahit dengan pasukan blanbangan yang di pimpin sendiri oleh Bre Wirabumi /Raden Menak Jinggo.Yang mana 2 istri selir Raden Menak Jinggo yaitu Putri Puyengan(dari Pasuruan) dan Putri Wahito (dari Probolinggo) berhasil mencuri senjata Gada besi kuning milik Bre Wirabumi dan di berikan kepada Raden Damarwulan.
Sejak senjata tersebut di pegang oleh Raden Damarwulan, maka Bre Wirabumi berhasil di kalahkan dan meninggal di atas lantai kayu, sebab bila jatuh ketanah beliau bisa hidup lagi karena mempunyai ajian Rawe Rontek. Lalu kepala beliau di potong dan di bawa oleh Raden Damarwulan beserta selir Raden Menak Jinggo tersebut sebagai saksinya kehadapan Ratu Suhita di istana Kutaraja Mojokerto.Setelah berada di istana,Ratu Suhita tahu bahwa wajah Raden Damarwulan terlihat dalam wangsit/wahyu yang datang padanya saat bertapa dulu dalam sumur keputrennya.
Akhirnya Raden Damarwulan/Sayyid Alwi Adzimat Khan menikah dengan Ratu Suhita/Ratu Kencana Ungu dan mempunyai 3 orang istri selir yaitu:
-            Dewi Anjasmara(putri Patih Logender)
-            Dewi Puyengan
-            Dewi Wahito
Kerajaan Majapahit kembali aman di pimpin Ratu Suhita dan suaminya Raden Damarwulan.
Pada masa itu kedatangan tamu dari tiongkok yakni utusan kaisar Eng Lok Kun membawa expedisi sangat besar yaitu Panglima Angkatan Laut Mukhammad Cheng Ho/Cheng He,setelah Cheng Ho kembali ke tiongkok dan setelah pension beliau datang secara pribadi dengan beberapa pengikutnya mendarat di pelabuhan tanjung emas – Semarang serta mendirikan sebuah masjid.Namun karena tidak terawat setelah M.Cheng Ho meninggal maka lama kelamaan masjid tersebut menjadi kuil yaitu kuil gedog batu – Semarang.
Sedangkan makam laks. M.Cheng Ho ada di belakang kuil tersebut yang terawat rapi sampai kini,di lestarikan oleh penduduk setempat.
Raen Damarwulan dan Ratu Suhita mempunyai anak seorang laki- laki yakni sayyid Qudbuddin Alwi A. Khan.
Dan RadenDamarwulan dengan putri Dewi Anjasmara mempunyai anak seorang laki- laki  bernama Sayyid Sattar Alwi A. Khan
Sedangkan dengan istrinya yang lain tidak berputra,makam Raden Damarwulan berada di atas gunung Kandangan (sungai kecil di pegunungan tengger) pada daerah Desa Nongkojajar – Kecamatan Purwodadi – Kabupaten Pasuruan.
Sedangkan Ratu Suhita makamnya berada di daerah pemakaman Troloyo – Trowulan – Mojokerto.Namun makam beliau brada di tengah - tengah pemakaman umum dan brada dalam sebuah bangunan kecil bersih, siang malam lampu yang terus bersinar dan berdampingan dengan pemakaman Dewi anjasmara.
Kalaupun buku - buku peninggalan Belanda menyatakan bahwa Kencana Ungu dengan Raden Damarwulan tidak mempunyai anak,kita tidak heran bahwa kaum penjajah (Belanda) tidak ingin adanya rasa persatuan bangsa pada bumi Nusantara,di khawatirkan oleh Belanda akan timbul pergerakan dari segala lapisan masyarakat baik ningrat,santri maupun masyarakat umum bersatu untuk menentang penjajahan.Selama 350 tahun kita tidak hanya di tipu melainkan di bodohkan dan di tidur lelapkan oleh penjajah Belanda sedangkan penjajah Belanda selama itu menguras hasil dibumi Nusantara dan sebagian barang - barang berharga milik kerajaan – kerajaan dulu banyak berpindah tempat.Arca emas Ken Dedes pun ada di museum Leiden – Netherland.Dan almarhum Presiden Soeharto yang berhasil mengambil kembali arca emas tersebut dan di ganti arca Ken Dedes dari perunggu,kini kini arca emas tersebut berada di museum negara Jakarta.
Apakah sejujurnya mereka (penulis - penulis belanda) menunjukan tulisan – tulisan  kuno sesuai dengan aslinya? Ataukah mungkin sudah di ubah di sana – sini? Kita tak harus percaya 100% kepada(penulis - penulis sejarah/belanda) karena penjajah menulis untuk kepentingan pemerintahan jajahan,kalau perlu semua yang di kusainya bisa diubahnya sesuai dengan yang di inginkan penjajah Belanda.
Pada saat baru saja Indonesia merdeka tahun 1945 hampir semua buku - buku pedoman sejarah masih buku - buku sejarah yang berhasil ditulis oleh ahli purbakala Belanda. Ratu mereka hanya menyatakan bahwa Suhita/Kencana Ungu menikah dengan Raden Damarwulan /Damar Sasongko tidak pernah di jelaskan. Sbenarnya Raden Damarwulan itu siapa?nama asli lahir itu siapa?daerah Palamba / Talun Amba itu di wilayah mana?datang dari kluarga ningrat / bukan atau mempunyai marga / tidak. Sengaja pemerintah belanda menutup asal - usul tersebut karena bila di ketahui nama marga seseorang, jelas bila di ketahui asal - usul orang tersebut bahkan leluhur asal orang tersebut yang akibatnya masyarakat umum hanya tahu Raden Damarwulan muncul secara tiba - tiba sebagai penyelamat negara Majapahit.
Namun dari pihak keraton banyak mempunyai buku - buku tentang Raden Damarwulan dan bahkan pihak internasional milik persatuan para habaib / habib di seluruh dunia bahkan museum di Turki mempunyai catatan hubungan khalifah - khalifah mulai mu’awiyah,khalifah Abbasiyah dan Sultan - sultan Turki dengan raja - raja maupun ratu - ratu yg silih berganti di P.Jawa.
Menurut catatan Rabithah Al Alawiyah Al Maktab Addaimi milik persatuan para habib Internasional baik keturunan Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi thalib maupun Sayyidina Hussein bin Ali bin Abi thalib yang mempunyai kantor pusat di madinah dan kantor cabang di Jakarta bahwa Pangeran Sayyid Qudbudin Alwi A. Khan adalah Brawijaya Pamungkas / penutup dengan wilayah Majapahit kecil dan tunduk pada Krajaan Demak,bukan anak dari raja Kerthabumi / Kertawijaya / Brawijay V tetapi anak dari ratunya Majapahit besar yakni Ratu Kencana Ungu dengan Raden Damarwulan / pemuda dari Talun Amba / Palamba di penggung/Ayodya-karta yang aslinya bernama Sayyid Alwi A.Khan di tinggal wafat ibunya sejak lahir dan di bawa pindah - pindah tempat oleh Ayahandanya dan sejak Ayahandanya wafat di titipkan ke wali yang mempunyai perguruan/pesantren kecil di J.Tengah, setelah dewasa datang ke salah satu keluarga dari almarhum Ayahandanya yang menjadi patih sepuh di kerajaan Majapahit yakni Patih Damarmanik.
Seperti hanya Patih Damarmanik,seperti hanya Patih Damarmanik nama aslinya siapa?sebagai keluarga dengan ayah Damarwulan sebagai keluarga sedarah / ipar?tak pernah ada penjelasan dari catatan manapun, yang jelas Damarwulan datang mengabdi pada patih sepuh Damarmanik yang masih keluarga. Kalau Damarwulan jelas asal usulnya pada catatan persatuan habib internasional karena anaknya:Pangeran Qudbudin Alwi memakai nama Adzimat Khan seperti dirinya yakni Alwi Adzimat Khan. Jadi bisa diketahui asal usul leluhurnya.
Dari hal tersebut bisa diketahui bahwa penulis – penulis Belanda tak semuanya mencatat sesuai dengan aslinya dilihat dulu mana yang mengungtungkan penjajah/tidak. Sangat mengkhawatirkan penjajah bila di catat sesuai aslinya yang kemungkinan akan menimbulkan rasa persatuan dalam diri seluruh lapisan masyarakat hingga timbulah rasa nasionalisme yang besar yang lebih menakutkan keberadaan pemerintah Belanda di bumi Indonesia.
Tugas generasi muda lebih menggali kembali dengan kritis apapun milik nenek moyang Indonesia supaya tak brpindah tempat ke negara lain dan apaun milik bumi Indonesia/ di tangan sendiri oleh sarjana - sarjana Indonesia tidak mengekor nama – nama sarjana dari negara lain.
Pada masa itu para pendakwah - pendakwah islam dan para wali(sebelum datagnya wali 9) telah lama memenuhi kota - kota besar dan pelabuhan – pelabuhan yang berada di bumi nusantara dengan jalan berdagang. Personil mereka dari timur tengah telah banyak menikahi penduduk setempat dan banyak mempunyai gudang –gudang perdagangan pada kota - kota besar di P.Jawa,lebih- lebih Kutaraja Majapahit.
Namun setelah Ratu Suhita dan Raden Damarwulan wafat, rakyat kurang berkenan bila yang menjadi raja adalah anak dari Ratu Suhita dan Raden Damarwulan yakni Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan, sebab garis ayah bukan dari kerajaan Brawijaya, maka rakyat berkenan pada Pangeran Kertabumi (adik kandung Ratu Suhita) yang menjadi raja bergelar raja Kertawijaya/Brawijaya V
(thn 1447m – 1450m)
Sejak raja Brawijaya V menjadi raja, negara sudah ada dalam keadaan pecah belah, sudah banyak negara - negara taklukan yang melepaskan diri menjadi kerajaan kecil yang berdaulat. Di dalam istana pun sudah trjadi perpecahan - perpecahan.
Majapahit telah menjadi negara lemah yang kurang berdaulat,tak ada wibawanya,keamanan sudah jauh berkurang dan perekonomian merosot tajam. Tapi didalam kas negara dan kekayaan istana terdapat koin - koin emas,permata - permata dan kekayaan lainnya yang tak trnilai harganya peninggalan kejayaan kerajaan sewaktu di pegang oleh leluhur - leluhur raja Kertawijaya/Brawijaya V yang belum pernah tersentuh pihak umum.
Semuanya itu menyebabkan kecemburuan sosial bagi rakyat dan kerajaan -  kerajaan lain yang telah lama mengincarnya.
Datanglah utusan dari kerajaan Keling Kediri yang merupakan taklukan Majapahit supaya Brawijaya V menyerahkan tahta dan kekayaannya pada raja Keling Kediri yaitu Prabu Udara,kalau tidak Prabu Udara akan mengambil tahta dengan paksa.
Pada waktu itu persatuan para wali beserta para santri - santrinya menawarkan tenaga untuk bergabung dengan tentara Majapahit melawan Prabu Udara dengan pasukannya Ghirindrawardhana. Tetapi di tolak oleh brawijaya V dan cukup beliau sendiri bersama tentara - tentara Majapahit akan melawannya sendiri. Terjadilah perang perebutan tahta yang seru,akhirnya Brawijaya V dengan tentara Majapahit kalah total,Prabu Udara menjadi raja Majapahit (th 1450m – 1477m) dan tentara Girindra wardhana menduduki pos - pos penting di Kutaraja.
Prabu Brawijaya V besrta kluarganya dan para bangsawan yang ikut beliau serta tentara - tentara yang setia kepadanya lari mengungsi keseluruh P.Jawa,terkadang dengan memakai nama samaran supaya tidak di bunuh oleh mata- mata  Prabu Udara,termasuk Prabu Brawijaya V sendiri memakai nama samaran Raden Gugur di desa lereng Gunung Lawu Ngawi Jatim.
Prabu Brawijaya V semasa menjadi raja mempunyai istri selir yang di cintainya yakni Dewi Dwarawati yang berasal dari negri Chanpa / Kamboja beragama islam (merupakan bibi dr Sunan Ampel – Surabaya) namun tidak berputra, akhirnya Brawijaya V mengambil permaisuri dari funan (tiongkok selatan) di beri nama Dewi Ratnajuwita dan hamil.
Dalam keadaan hamil,beliau terfitnah oleh para selir - selir yang lain yang banyak sekali,akhirnya raja terbujuk fitnah dan di usirnya permaisuri yang sedang mengandung keluar dari istana. Dengan bekal kekayaan yang banyak dari suaminya (Brawijaya V), permaisuri berlayar di iringi armada yang setia padanya yang anggotanya terdiri dari murid - muridnya Sunan Ampel (R.Akhmad Rahmatullah/Bung Swie Hoo) Surabaya yang dipimpin oleh salah satu santri pedagang dari tiongkok yaitu Sung Hing yang sakti. Kepergian prmaisuri bukan jalan yang aman baginya melainkan penuh bahaya sebab nyawa permaisuri dan putra mahkota dalam kandungan di incar oleh orang - orangnya Prabu Udara dan orang - orangnya para selir - selir Brawijaya V yang tidak menyukai permaisuri serta tak menyukai lahirnya putra mahkota.
Dalam situasi tidak aman rombongan armada prmaisuri yang dikomando oleh Sung Hing mendarat di pelabuhan bengkalan – P. Madura untuk menghindari kapal - kapal musuh yang mengejar permaisuri. Di P. Madura Sung Hing mengajari orang - orang Madura membuat seni tali temali / tampar.
Dalam keadaan aman,armada permaisuri berlayar terus kelautan utara Jawa. Dalam keadaan kurang aman Sung Hing mengajak mereka mendarat di pelabuhan kecil kota jepara. Selama singgah di jepara,Sung Hing mengajari orang - orang jepara seni ukir mengukir.
Kemudian rombongan permaisuri berlayar terus sampai P. Sumatra, yang mana Sung Hing meminta perlindungan bagi permaisuri putra mahkota dalam kandungan kepada penguasa Sumatra selatan yakni Adipati Pailin Bang (kelak orang - orang menyebutnya Palembang). Mereka diterima dan dilindungi oleh Adipati Pailin Bang beserta seluruh rakyat Sumatra selatan.
Pailin Bang adalah bekas Jendral Kepala Keamanan Putri Ong Tien Hio (putri kaisar Hong Gie tiongkok selatan) sewaktu hamil pada masa berlayar mencari suaminya yakni Waliullah Sunan Gunung Jati Lie Guang Chang dan Lie Guan Hien.
Baik Pailin Bang,Lie Guan Chang,Lie Guan Hien mereka semuanya akhirnya menjadi murid - murid setia Sunan Gunung Jati.
Hanya Pailin Bang yang di angkat oleh Sunan Gunung Jati menjadi Adipati di Sumatra selatan,sedangkan Lie Guan Chang dan Lie Guan Hien tetap setia menjaga putri Ong Tien Hio hingga wafatnya. Makam mereka berada di pemakaman Keraton Kesepuhan Cirebon – Jawa barat.
Setelah Pailin Bang wafat,Sung Hing menggatikan menjadi Adipati di Sumatra selatan bergelar Adipati Arya Damar dan menikahi bekas permaisuri Raja Brawijaya V yakni Dewi Ratnajuwita. Yang mana putra mahkota Majapahit sudah berumur 2 tahun bernama Pangeran Jin Bun (kelak R. Patah) / Pangeran Hasan.
Sung Hing / Adipati Arya Damar dgn Dewi Ratnajuwita mempunyai anak laki - laki yang bernama Raden SungKinsan/Raden Husein yang kelak akan menjadi Adipati Terung/Lasem dan pada masa kerajaan Demak di puji oleh Raden Patah / Jin Bun berperang melawan Portugis yang ingin menguasai pelabuhan Sunda Kelapa, Raden Sung kinsan berjuang brsama Raden Fatahillah (pangeran Fadilah Khan dari Gujarat – India Belakang) yang menjadi menantu Sunan Gunung Jati – Cirebon, hingga portugis kalah dan meninggalkan Sunda Kelapa (kini Jakarta)selama - selamanya dan pindah bercokol di bumi timor - timor (timor leste).
Untunglah sewaktu tentara Girindrawardhana datang menyerbu istana Majapahit sang permaisuri dalam keadaan hamil sudah terusir dari istana dan sudah dalam keadaan berlayar di lautan,jadi hanya prabu Brawijaya V besrta selir - selir dan anak - anak mereka yang mengalami serangan oleh prabu Prabu Udara dengan tentara Girindrawardhana. Sebagian keluarga Prabu Brawijaya V banyak yang gugur dan yang selamat melarikan diri mengungsi termasuk Prabu Brawijaya V.
Selama Majapahit dicengkram Prabu Udara dengan tentaranya,keadaan rakyat semakin susah, keamanan porak poranda;siapa yang kuat yang pro Girindrawardhana itulah yang menang. Wilayah Majapahit tinggal seperempatnya saja,banyak rakyat yang lepas mendirikan negeri sendiri - sendiri.
Rakyat yang mayoritas hindu,budha dan animisme / dinamisme sangat tertindas oleh kesewenang - wenangan tentaranya Prabu Udara. Rezim Prabu Udara hanya mencari kekayaan saja.
Agama islam sangat minoritas tetapi mempunyai perekonomian yang kuat,para pedagang - pedagang dan para pangeran - pangeran Majapahit yang beragama islam terutama anak-anak pangeran Qudbudin Alwi A. Khan (anak satu - satunya Ratu Suhita/Kencana Ungu dgn Raden Damarwulan/Alwi A. Khan) yang mana pangeran Qudbudin Alwi A. Khan dengan beberapa isterinya mempunyai anak - anak sebanyak 105 orang,50 orang wanita 65 orang laki - laki.
Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan sewaktu berdiri kerajaan Demak ,beliau diamanahi memimpin wilayah bekas kutarajasa Majakerta (majapahit kecil) yang wilayahnya kembali kecil seperti semula sewaktu baru berdiri oleh Raden Wijaya dulu, yang mana Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan setiap bulan membayar upeti pada kerajaan Demak dan Bergelar Brawijaya Pamungkas / orang pendatang terutama pedagang besar dari tiongkok menyebutnya dengan Nyoo Laywa.
Anak - anak Qudbudin Alwi A. Khan mempunyai usaha jalur perdagangan internasional dan mempunyai gudang - gudang perdagangan pada pelabuhan – pelabuhan seluruh P.Jawa.
            Pada masa itulah para pendakwah – pendakwah islam dan para wali banyak menolong penderitaan rakyat, lama kelamaan membentuk organisasi social yang dinamakan organisasi social Walisongo yang mana Sembilan waliullah tersebut bergantian memimpin oranisasi setiap jangka waktu tertentu yang telah disepakati mereka bersama. Masing – masing mereka telah mendirikan perguruan pesantren – pesantren disamping mengajarkan ilmu – ilmu agama juga mengajarkan ilmu – ilmu beladiri kanuragan,kedigdayaan,ilmu tata negara dan kesatrian yang mengajarkan cinta tanah air,juga mengumpulkan infaq,shodaqoh dan jaryah dari mereka – mereka yang mampu di bagikan untuk mereka setiap bulan kepada rakyat Majapahit yang mayoritas sedang menderita berat terjajah oleh rezim Prabu Udara degan tentaranya Ghirindrawardhana.
            Seiring dengan berjalannya organisasi Walisongo yang sukses,seiring pula dengan semakin besarnya satu – satunya putra mahkota Majapahit di tanah rantau yaitu Pangeran Jin Bun/Hasan (kelak Raden Patah).
Sejak umur 10 thn Pangeran Jin Bun oleh ibunya (Dewi Ratnajuwita)dititipkan pada pesantrennya sunan Gunung Jati – Cirebon supaya mendapat pendidian agama islam hingga berumur 15 tahun. Setelah pesantrennya Waliullah sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) di kota Kudus – Jawa Tengah, supaya lebih mendalami agama islam dan mendapat ilmu kanuragan,kedigdyaan dan kesatriyaan. Sewaktu berumur 17 tahun Pangeran Jin Bun berguru pada pesantrennya sunan Ampel di Surabaya untuk lebih mendalami segala ilmu terutama ilmu tata negara dan liku – liku berjalannya politik dan kehidupan tata cara istana yang mana dulu sebelum di serang oleh Prabu Udara, keraton/istana Majapahit pernah mengambil (sunan Ampel) sebagai salah satu penasehat negara sewaktu bibi sunan Ampel Dewi Dwarawati menjadi selir 1/utama nya Prabu Brawijaya V dinikahkan dengan putrinya :Dewi Candrawati walaupun sunan Ampel telah mempunyai 2 orang istri yang dibawanya sewaktu belum datang ke P.Jawa yakni Putri Raja Champa / Kamboja dan Putri Raja dari salah satu kerajaan di Tiongkok Selatan. Pada akhirnya Pangeran Jin Bun di nikahkan dengan putrinya sunan Ampel yang tertua yaitu Dewi murtasyah kelak menjadi permaisuri kerajaa Demak.
            Sangat menderita,tidak nyaman dan terbelenggu kebebasan hak – hak diri rakyat di kuasai oleh penjajah,diam – diam dalam hati Pangeran Jin Bun ingin mengusir dan menghabiskan seluruh tentara Girindrawardhana dan Prabu Udara dari bumi Majapahit.
            Dianjurkan oleh Walisongo supaya pangeran Jin Bun mengabdi dulu pada Prabu Udara. Saran tersebut diikutinya yang akhirnya Pangeran Jin Bun diangkat oleh Prabu Udara menjadi Adipati di daerah Bintoro (kini demak).
            Dengan jabatan tersebut memudahkan Pangeran Jin Bun menggalang persatuan rakyat dan lama – lama seluruh lapisan masyarakat berbagai keyakinan bersama sisa – sisa tentaranya Prabu Brawijaya,seluruh keluarga kerajaan yang brada di perantauan besrta Walisongo dan santri – santrinya,mereka dikomandoi Pangeran Jin Bun berjuang bersama – sama berperang mengusir Prabu Udara dan tentaranya Girindrawardhana.
            Akibatnya tentara Girindrawardhana kalah total dan Prabu Udara yang sakti meninggal di tangang sunan Kudus/Sayyid Ja’far Shodiq. Pihak Majapahit banyak yang gugur,di antaranya yang gugur terdapat Waliullah dari tiongkok bernama Waliullah Tan Kim Han(syekh Abdul Qodir Assyinni). Dari provinsi FU Jian/Tiongkok Selatan yang merupakan leluhur garis lurus ke atas dari pendiri Nahdlatul Ulama yakni K.H.Hasyim Asya’ri, K.H.Wakhid Hasym dan anaknya K.H.Abdur rokhman wakhid Hasym / Gusdur presiden Republik Indonesia ke 4. Makam Waliullah Tan Kim Han berada di pemakaman Troloyo – Trewulan – Mojokerto – Jawa Timur. Dan di antara pejuang – pejuang Majapahit yang masih hidup terdapat Waliullah dari Madinah yang menikahi putrinya Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan/Brawijaya Pamungkas yakni Putri Dewi Kencananingrum,Waliullah tersebut adalah Sayyid Maulana Mukhammad Fadlullah Adzimat Khan – Al kubro (Syekh Maghribi – Jawa Tengah) yang berpindah dari Majapahit ke Jawa Tengah mendirikan perguruan pesantren di pinggir laut selatan tepatnya di Parangkusumo. Dari beliaulah menurunkan sultan – sultan mataram islam, kasunan Surakarta/Solo,mangkunegaran,sultan – sultan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pakualaman. Makam beliau sekeluarga dan murid – meridnya brada di Parangkusumo dan terawat  rapi oleh keluarga kerajaan Ngayogyakarta maupun Surakarta sampai kini. Tidak heran kalau tanah yang berada pada pemakaman sultan – sultan Jawa di pemakaman Bukit Imogiri – Bantul – Jogyakarta adalah tanah yang diambil dari tanah mekkah Al Mukarromah dan dari Madinatul Munawarroh negeri asal Nabi Muhammad s.a.w. dan mengingatkan keluarga kerajaan sultan – sultan Jawa bahwa di antara leluhur sultan – sultan Jawa berasal dari Mekkah dan Madinah.
            Dengan kemenangan Pangeran Jin Bun,di panggilnya Raja Brawijaya V di Gunung Lawu / Ngawi – Jatim pleh mereka semua untuk menduduki tahta kembali. Setelah Raja Brawijaya V bertemu mereka semuanya,raja memutuskan untuk memberikan tahtanya kepada anak kandungnya yaitu Pangeran Jin Bun dan pamit pergi ke Gunung Lawu lagi untuk bertapa (lengser Prabon madeg pandita). Yang mana pada akhirnya Prabu Brawijaya V / Kertabumi berguru kepada Sunan Kalijogo dan berhasil molegya(mencapai kesempurnaan diri dan telah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya,istilah hakekatnya adalah mengetahui guru sejatinya sendiri). Beliau bergelar Kanjeng Sunan Lawu. Makam beliau berada di Alas Ketonggo – Ngawi – Jawa Timur.
            Setelah kepergian Prabu Brawijaya V ke Gunung Lawu, Pangeran Jin Bun menggatikan ayahnya menjadi raja,tetapi beliau teringat kata – kata Sunan Giri(Sayyid Ainul Yaqin A. Khan) sewaktu berhadapan dengan Pasukan Giridrawardhana dulu beliau selalu berucap ,,Sirna haling Kertaning Bumi’’ artinya takkan ada lagi kekuasaan yang berdiri di atas bumi Majapahit hingga akhir kerajaan dikarenakan perebutan kekusaan.Pangeran Jin Bun berunding dengan para Walisongo yang sepakat memindahkan pusat kerajaan menuju Bintoro/Demak. Yang mana seluruh barang – barang istana dan bangunan – bangunan yang penting – penting di istana di pindahan semua ke Bintoro/Demak. Mengenai simpanan harta benda yang melimpah ruah milik keraton Majapahit, oleh Walisongo bersepakat dengan Pangeran Jin Bun dan di depan mata para punggawa – punggawa/pejabat – pejabat, tentara – tentara Majapahit dan wakil – wakil rakyat Majapahit,……… harta karun Majapahit tersebut di titipkan pada raja – raja lelembut yang berada di seluruh pelosok P. Jawa, tiba – tiba tumpukan harta karun tersebut di depan mereka lenyap karena raja – raja lelembut datang mengambil titipan tersebut atas izin Walisongo dengan Pangeran Jin Bun.
            Adanya kespekatan antara Walisongo bersamaan Pangeran Jin Bun dengan raja – raja lelembut di seluruh P. Jawa bahwa harta karun tersebut tidak boleh di berikan kepada sembrang generasi melainkan kelak diizinkan kelak buat rakyat Nusantara sewaktu di pimpin oleh Kepala Negara bergelar Satriya Pinandita Sinisihan Wahyu yang sangat amanat kepada rakyatnya,pada masa itulah hampir seluruh punggawa – punggawa/pejabat – pejabat Nusantara banyak yang jujur/amanat untuk rakyat di pegang teguh hingga kemakmuran bisa merata. Yang mana pada zaman tersebut rakyat umum bebas tidak membayar pajak, hanya usaha – usaha/pabrik – pabrik saja yang membayar pajak (wong cilik anemu kethok emas wong gedhe bakal gumuyu – karta jamanipun nuli negaranira rengka), begitulah istilah dalam salah satu petikan buku ,,Ramalan Jayabaya”.
            Setelah adanya peralihan kekuasaan dari kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak, diresmikanlah berdirinya Kerajaan Isalam Demak dengan rajanya bergelar Sultan/Raja Hasan/Jin Bun. Hal tersebut ditandainya dengan diresmikannya Masjid Agung Demak pada tahun 1478 masehi. Yang mana setelah peresmian,malam harinya di adakan hiburan rakyat berupa pergelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi dalang adalah Wali sunan Kalijogo(Raden Sayyid/Gansie Chang) dengan dihadiri seluruh rakyat berjejal – jejal di lapangan depan masjid Demak dengan cerita besar ,,Perang Bharatayudha Jayabinangun” yang dimenangkan Pandawa/Panengen atas Kurawa/Pangiwo. Setelah melaksanakan ibadah haji di mekkah Sultan Hasan/Jin Bun bergelar Sultan Akbar Al Fattah yang mana rakyat menyebutnya Raden Patah.
            Seluruh pasukan – pasukan kerajaan Majapahit yang dianggap kurang penting dikuburkan semua pada salah satu makam di belakang masjid Demak, sedangkan yang penting dibawa sendiri oleh Raden Patah/Jin Bun.
            Menurut keterangan Walisongo kepada rakyat bahwa sejak kerajaan Demak berdiri adalah bukan masanya saling berebut pusaka – pusaka atau kesaktian – kesaktian melainkan setiap diri untuk merebut ajimat Kalimosodo. Maksudnya, bagi yang bukan islam adalah saling berlomba melaksanakan ibadah menyembah Tuhan Yang Maha Satu dengan cara keyakinan masing – masing yang tujuannya adalah tetap Tuhan Yana Maha Esa. Sedangkan bagi isalm adalah Kalimosodo (Kalimasada) yang berarti Kalimat Syahadat yang terucap sejak dalam alam roh terus masuk ke dalam gua garba atau perut ibu terus hidup di dunia hingga alam kelanggengan tetap mengucap syahdat.
            Reformasi sukses yang pernah terjadi di bumi yang dilaksanakan oleh Organisasi Walisongo karena di dasari ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ketulusan hati dalam pengabdian mengangkat taraf hidup pada rakyat jelata yang tadinya terpilah – pilah dalam kasta – kasta dan terpuruk karena gulung tikarnya sistim pemerintahan rezim Girindrawardhana, dengan adanya reformasi pelan – pelan tapi tulus walaupun bertahun – tahun namun akibatnya mengena di hati rakyat yang dengan sendirinya masyarakat merubah dirinya sendiri.
            Dengan kesadaran cinta tanah air mengikuti apa yang disarankan oleh pangeran Jin Bun/Raden Patah dengan Walisongo dalam merubah sistim kenegaraan. Jadi bukan reformasi yang hanya berjalan sebagai suatu gebrakan saja penuh hingar bingar tetapi kurang mengena di hati rakyat yang akibatnya hanya menimbulkan persaingan – persaingan antar pimpinan – pimpinan maupun persaingan – persaingan antar kelompok masyarakat.
            Adapun susunan organisasi social Walisongo terdiri dari 5 periode,yang mana pada periode prtama masih sebagai wadah para wali dan pendakwah – pendakwah islam berkumpul untuk menanggulangi permasalahan yang ada di Bumi Majapahit supaya orang – orang islam berguna bagi masyarakat dan negara namun belum terbentuk secara sistimatis. Yang mana periode pertama dipimpin oleh Waliullah Sayyid Maulana Malik Ibrahim Adzimat Khan yang meninggal pada th 1419m, terlahir di negri Turki dan besar di Gujarat/India Belakang, berkenalana menyebarkan agama islam dan wafat di Gresik. Makam beliau berada di Gresik. Keturunan beliau yang ke-12 adalah K.H. Alehmad Dahlan (Mokhammad Darwis) yang mendirikan Organisasi Sosial Muhammadiyah (berdiri 1912m di Yogyakarta) yang mana kelak kami ungkapkan nama – nama leluhur KH. Ahmad Dahlan pada jilid V nanti, marga nama Adzimat Khan berasal dari garisnya Waliullah Abdullah A. Khan keturunan dari Sayyid Zainal Abidin r.a. putra dari Ali bin Abi Thalib, jadi anak Fatimah r.a. binti Rasulullah s.a.w. dengan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ,yang mana makam Sayyid Hussein r.a. berada di Karbala – Irak karena terbunuh oleh algojonya Yazid bin Muawiyah As Sofyani yakni Shemir orang Irak.
-          Organisasi walisongo II terbentuk th 1421m dengan pemimpinnya Sunan Ampel.
-          Organisasi walisongo III terbentuk th 1463m dengan pemimpinnya Sunan Ampel.
-          Organisasi walisongo IV terbentuk th 1466m dengan pemimpinnya Sunan Ampel.
-          Organisasi walisongo V terbentuk th 1479m dengan pemimpinnya Sunan Giri.
Dalam organisasi walisongo terdapat nama – nama para wali yang termasuk generasi tua sebelum Majapahit di pegang oleh raja terakhir Brawijaya V (Prabu Kertabumi/Kertawijaya), mereka – mereka tersebut adalah :
1.      Syekh Maulana Iskhak Adzimat Khan, terlahir di Madinah/Hejaz(kini Saudi Arabia) dan makam beliau berada di Jl. Garuda – Dsn. Tambakberas – Ds. Tambakrejo – Kec. Jombang – Kab. Jombang – Jatim.
2.      Syekh Jumadi (Al Kubro) Adzimat Khan, terlahir di Azarbaijan (Asia Tengah) termasuk Rusia Selatan dan Wafat lalu dimakamkan di Troloyo – Trowulan – Mojokerto pada th 1465m. Gugur Shuhada membela kerajaan Majapahit melawan Pasukan Girindrawardhana yang di pimpin Prabu Udara dari Keling – Kediri.
3.      Maulana Malik Isro’il berasal dari Turki ahli strategi perang dan ketata negaraan, berdakwah di Jawa Tengah, wafat di Gunung Santri Cilegon – Jawa Barat th 1436m.
4.      Maulana Mukhammad Ali Akbar berasal dari Persia(Iran) ahli pengobatan dan Pertanian, berdakwah di Jawa Tengah, wafat di G. Santri – Cilegon – Jawa Barat th 1436m.
5.      Maulana Hassanudin dari Baitul Maqdis/Jerussalam, ahli menumbali/member tanah Jawa, ahli nujum dan kesaktian – kesaktian, wafat th 1462m di samping masjid Banten Lama, Banten Jawa Barat.
6.      Maulana Aliyuddin berasal dari Baitul Maqdis/Jerussalem dan berdakwah di Jawa Barat, wafat th 1462m di samping masjid Banten Lama, Banten – Jawa Barat.
7.      Sayyid Maulana Mukhammad Al Bakhir (Syekh Subakir) berasal dari Persia/Iran ahli supranatural menumbali/memberi Phatokantanah Jawa dan memindah kerajaan Lelembut (Jin, Bananul Jin, Peri Perahyangan, Syetan, dan sebangsanya). Selesai menumbali/memathoki seluruh P. Jawa, beliau pergi dari P. Jawa dan kembali ke Iran lagi. Alkisah Syekh Subakir bersal dari Iran, tetapi beliau berangkat berdakwah dari pelabuhan besar Istambul dibantu dan ditunjang dengan expedisi beberapa kapal – kapal laut besar yang disponsori pemerintahan Khalifah Islam Turki Sultan Mukhammad 1, yang personilnya terdiri dari cabang – cabang Romawi (bekas Romawi Timur/Bizantium dan bekas Romawi Barat – Italia) yang beragama Islam yang mayoritas mu’alaf (mantan orang – orang Nashrawi yang berpindah agama ke islam) dengan setia mengukuti armada expedisinya Syekh Subakir di P. Jawa yang jumlah mereka ± 20000 orang. Setelah di P.Jawa mereka mereka sebagian besar tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan mayoritas tidak kembali ke negri asalnya dan menikahi penduduk setempat menyatu sebagai penduduk P. Jawa. Sedikit yang mengikuti Syekh Subakir kembali ke Iran maupun Turki terjadi pada th 1462m.
8.      Sayyid Maulana Mukhammad Fadlullah Adzimat Khan(Al Maghribi – Al Kubro) berasal dari Madinah. Menikahi putrinya Brawijaya Pamungkas (Brawijaya kecil) Raden Qudbudin Alwi A. Khan dan berdakwah mendirikan perguruan Pesantren di Parang Kusumo – Jogjakarta Selatan, wafat th 1465m.
9.      Syekh Maulana Malik Ibrahim Adzimat Khan, berasal dari Turki, besar di Gujarat dan wafat di Gresik th 1419m.
Dan nama – nama para wali yang termasuk Generasi penerus/generasi muda yang lebih banyak bersyar/berdakwah, berjuang bersama – sama putra mahkota kerajaan Majapahit yakni Raden Patah dalam mengusir tentara Girindrawardhana dan Prabu Udara dari Majapahit dan mereformasi tatanan negara dari carut marut menjadi negara baru yang di setujui seluruh rakyat Majapahit yakni kerajaan Islam pertama di P. Jawa yakni Demak.
1.      Maulana Akhmad Rohmatullah

Untuk pangiwo panengen jilid IV ini ada tulisan yang kurang mohon bersabar dulu, Terima kasih