Kamis, 28 Agustus 2014

PANGIWO - PANENGEN JILID V



PRAKATA

                   Syukur Alhamdulillah kami haturkan kepada Alloh SWT, karena hidayah, inayah dan maunah sehingga al fakir Kyai Djawan samudro dapat menyusun kembali Kitab Pangiwo dan Panengen Jilid V Yang merupakan Jilid akhir Kitab Pangiwo – Panengen dapat kami hadirkan kembali ketengah pembaca tidak terlepas dari Perjuangan Nara sumber kami, Ibu Endang Permata Asri ,yang mana sudah sekitar 1 tahun mempersiapkan tulisan tersebut.tak lupa salam taklim kami kepada junjungan kami tercinta Muhammad SAW yang kami harapkan syafaatnya ila yaumil kiamah.
                   Kitab Pangiwo – Panengen ini merupakan Karya Asli Tim Kyai Djawan Samudro bersama Nara Sumber Tunggal kami, Ibu Endang Permata Asri ,serta blusukan ke Museum- museum untuk mencatat dari naskah – naskah kuno. Maka untuk itu bilamana ada acara – acara TV sekiranya mengambil seluruh atau sebagian Naskah kami hendaklah sekiranya Pamit kepada kami untuk KULO NUWUN, atau kirim SMS ke 081554980751 – 081554980673 hanya itu yang dapat kami sampaikan, dikarenakan ada salah satu Stasiun Televisi yang banyak mengambil tulisan – tulisan kami pada Blog Kyaidjawansamudro.blokspot.com.namun tak ada pemberitahuan ataupun SMS pada kami selaku pemegang Hak siar maupun hak tulis.
                   Sejarah Bangsa ini tidak terlepas perjuangan Mujahid – mujahid Islam yang begitu tulus ikhlas berjuang untuk Bangsa dan agama ini, Dinul Islam. Maka selayaknya kita sebagai generasi Muda harus berterima kasih kepada perjuangan beliau- beliau para Wali Songgo dan Da’i serta kyai Lokal tanah djawa ini, ISLAM tidak terlepas dari Perjuangan beliau ( Penegak Kebenaran ) yang berda’wah tanpa pamrih.
                   Mudah- mudahan dengan adanya tulisan ini ,kita semakin faham tentang sejarah yang benar ,bahwa Islam datang melalui kesadaran diri,tanpa adanya unsur paksaan ,semata – mata datang karena hidayah dari Alloh SWT.
                   Akhirnya hanya ini yang dapat kami sampaikan mudah- mudahan bermanfaat untuk kita semua sebagai bahan kajian untuk menyiasati hidup dan kehidupan.


                                                                                                            Kyai Djawan Samudro



BERDIRINYA KERAJAAN DEMAK
                   Sejak kerajaan Demak berdiri Tahun 1478 M bersamaan peresmian Masjid agung Demak ,saat itulah P. Jawa dipimpin oleh Raja beragama Islam pertama kali yang berasal dari Putra mahkota Majapahit sendiri anak dari Prabu Brawijaya V ( Prabu kertabumi / Kertawijaya dengan Putri Ratna Juwita / Putri Funan dari Tiongkok Selatan ).
                   Setelah Kepulangan Pangeran Jimbun dari menunaikan Ibadah Haji di mekkah beliau mendapat gelar Sultan Akbar Al - Fatah terkenal dengan  sebutan R. Patah (1478 – 1518 M ) Yang mana Kerajaan Demak bergerak dalam bidang pertanian, Perdagangan dan Perdagangan Internasional lewat kelautan / Maritim yang berkerjasama dengan Tiongkok , Malaka dan Timur Tengah.
                   Semenjak R. Patah wafat , tahta dipegang oleh anak beliau yang pertama yaitu Pangeran Mukhammas Yunus yang terkenal dengan sebutan Adipati unus ( 1518 M – 1521 M ) karena beliau sering membantu Malaka melawan Portugis di selat Malaka maka beliau terkenal dengan sebutan Pangeran sebrang Lor.
                   Pada Tahun 1511 M ,Malaka jatuh ke tangan Portugis , sejak saat itu Kerajaan Demak putus hubungan dengan Malaka, hanya berdagang dengan Tiongkok dan Timur Tengah.
Sultan Adiapti Unus mempunyai anak al : Pangeran Madyo Pandan ( menjadi Sufi ) yang pada masa tuanya pindah ke Pulau Tigang Ngampar / Bukit Mugas. Pangeran Madyo Pandan mempunyai anak Pangeran Pandan ( Ki ageng Pandan Arang ) sebagai jurunata / Pejabat yang diangkat oleh Kerajaan demak mengatur daerah pangisikan dan Bubakan ( kini kota Semarang ) beliau diambil menantu oleh Pendeta ajar Pragoto dinikahkan dengan putrinya bernama Endang sejanila. Makam Beliau berada di Jl. Mugas dalam II /4 sebelah gedung SMPN 10 Semarang Jawa tengah.
                   Sultan Adipati Unus melihat masa itu satu persatu negeri – negeri Islam jatuh ke tangan bangsa – bangsa eropa yang mempunyai persenjataan yang lebih Modern, sedangkan di P. Jawa baru saja penduduknya beragama Islam,sangat diperlukan Pendidikan rasa persatuan antar keyakinan untuk lebih mencintai tanah airnya dan Pendidikan Bela Negara yang terlatih.
                   Bagi Sultan Adipati Unus yang sejak Remaja terbiasa hidup terdidik cara satriya , menginjak dewasa terbiasa hidup dikancah perjuangan dan peperangan di tengah- tengah samudra selat malaka membawa Pejuang – pejuang Sukarelawan dari P. Jawa yang ingin membantu Negeri – negeri Sahabat Melawan Portugis yang ingin menguasai rempah – rempah dan perekonomian Kerajaan malaka.
                   Pendidikan Bela Negara sangat penting untuk mendidik dan mengembleng Pemuda – pemuda untuk dididik kerohanian yang dalam dan pendidikan cinta tanah air yang sangat terlatih.
Dilihatnya sangat kurang Tenaga kerohanian untuk disebar di pelosok – pelosok P. Jawa , maka diputuskannya untuk menyerahkan tahta Kerajaan kepada adiknya yang dilihat nya lebih piawai dalam strategi militer dan strategi bernegara yaitu Pangeran trenggono, sedangkan beliau sendiri hendak memimpin para Ulama , para pendeta dan para ketua – ketua adat untuk mengatasi generasi muda dalam melangkah kedepan. Jauh – jauh hari sebelum Pangeran Trenggono menjadi Sultan , sewaktu Adipati unus menjadi sultan, tiba – tiba Abang Pangeran Trenggono yakni Pangeran Sekar sedo Lepen ( sebenarnya lebih berhak atas tahta daripada R. Trenggono) Tiba – tiba pangeran Sedo Lepen terbunuh dan wafat meninggalkan anak yang masih balita yakni Arya Penangsang. Pembunuh P. Sekar Sedo Lepen adalah R. Arya Prawoto / sunan Prawoto anak sulung dari P. Trenggono.
                   Maka Adiapti Unus menyerahkan tahta Kerajaan Demak kepada P. Trenggono dan bergelar Sultan Trenggono ( Th. 1521 M – 1546 M ) di Pimpin sultan Trenggono Kerajaan Demak Maju dengan pesat mencapai kejayaanya.
                   Pada Th 1522 M. Kerajaan Demak dipimpin oleh Panglima Perang Adipati Terung / Lasem yakni Pangeran Sun Kin San ( Raden Husein adik Raden Patah lain auah satu Ibu ) bergabung dengan Angkatan Perang Kerajaan Cirebon yang dipimpin Oleh Panglima Perang Fatahillah / Fadilah Khan ( Menantu Sunan Gunung Jati Yang berasal dari Gujarat / India Belakang ) mereka bersama – sama mengusir Portugis dari Bumi Sunda Kelapa ( kini Jakarta ) Dalam Pertempuran yang seru tersebut mereka berhasil mengusir Portugis dari Pulau Jawa dan Portugis pergi selama- lamnaya dari Pulau Jawa namun bercokol di Bumi Lorosae ( kini timor Timur / republic Timor Leste ) sejak kepergian Portugis , Sunda Kelapa diganti menjadi jayakarta ( kini Jakarta ) dan menjadikan Pangeran Wijayakarta ( anak Fadilah Khan menjadi Adipati / Tumenggung ( Gubernur Pertama Jayakarta th 1522 M.
                   Perlu diketahui Marga Khan masih berasal dari darahnya Sayidina Hasan Bin Ali bin Abi Thalib ( anak dari Fatimah Zahra ra dengan Syaidina Ali Karomallohu wajhah ) sedangkan marga Adzimat Khan berasal dari darahnya Hussein bin Ali Bin Abi Thalib yang gugur di Karbala dibantai oleh Diktator Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan ,Orang Irak ( Makam Sayid Hussein di Karbala , Irak )
                   Portugis menguasai Timor Timur selama 452 tahun dan berhasil keluar dari Timor – Timur karena dipukul mundur oleh Pasukan President Almarhum H. Muhammad Soeharto th 1974 dengan hancurnya Benteng – benteng Portugis satu persatu diantaranya Benteng Besar ERMERA, Sejak saat itu Portugis pergi selama- lamanya dari Bumi Indonesia / Nusantara.
                   Setelah Sultan Trenggono wafat , tahta dipegang oleh anak sulungnya yakni Sunan Prawoto ( yang dulu membunuh Pangeran Sedo Lepen / Ayah Raden Aryo Penangsang )namun Arya Penagnsang telah menjadi Adipati di Jipang Panolan ( Blora ) beliau membalas dendam kematian ayahnya dengan membunuh Sunan Prawoto dan juga membunuh adik ipar Sunan Prawoto
YAITU Pangeran Hadiri ( suami Putri Kalinyamat / Putri Bungsu Sultan Trenggono ) dan mengambil kembali tahtanya yang seharusnys jatuh ketangannya.
                   Namun penilaian seluruh Masyarakat  Demak sangat Negatif / tidak setuju terhadap keberadaan Raden Aryo Penangsang menjadi Sultan sebab Masyarakat menilai Aryo Penangsang sangat Kejam karena begitu Tega membunuh 2 ( dua ) saudaranya yang masih satu kakek nenek dengannya. Mereka beranggapan mungkin aryo Penangsang akan bertindak lebih kejam terhadap rakyatnya,yang mana terhadap saudara sendiri saja sekejam itu bagaimana terhadap Orang lain ?.
                   Jeritan Hati Rakyat Demak ditampung semua oleh Ratu Kalinyamat ( Istri almarhum P. Hadiri sekaligus sebagai Putri Bungsu Sultan Trenggono satu – satunya pewaris tahta demak ) setelah diputuskan bersama- sama akhirnya Ratu Kalinyamat memanggil salah satu menantu Alm Sultan Trenggono yang paling sakti dan menjadi Panglima Kerajaan Demak yak’ni Raden Jaka Tingkir / Mas Karebet / Qorib Bait ( Sayyid Abdurahman Umar Faqih Ba’syaiban ) .
                   Raden Jaka Tingkir adalah anak dari Dewi Nawangsih ( Putri dari Bidadari Nawangwulan ( Nyai Roro Kidul ) dengan Raden Jaka Tarub ( Sayyid Ali Murtadlo Adzimat Khan ) dengan Ki Ageng Butuh / Raden Kebo Kenongo ( Sayyid Umar Faqih Ba’syaiban )
                   Ratu Kalinyamat berpesan pada Raden Jaka Tingkir bahwa apabila Raden Jaka Tingkir bias mengalahkan dan menyingkirkan Raden Arya Penagsang dari tahta Kerajaan Demak ,maka tahta Kerajaan Demak akan diberikan Kepada Raden Jaka Tingkir dan bisa diturunkan ke anak cucunya , sejak mendapat pesan tersebut Raden Jaka Tingkir selalu bertafakur bagaimana mengalahkan Orang sesakti Raden Arya Penagsang ?
                   Akhirnya raden Jaka tingkir berunding dengan salah satu guru dari Raden arya Penagnsang yakni Waliullah Sunan Kudus ( Sayyid Ja’fa sodiq ) , Sunan Kudus Mengerti dengan keadaan Rakyat demak yang sedang carut marut , beliau berpesan boleh dikalahkan dan diadili tetapi jangan dibunuh , tidak baik saling bunuh membunuh, legalah hati Jaka tingkir diizinkan untuk mengalahkan ,Menangkap dan mengadili sesuai hukum Kerajaan Islam Demak terhadap Raden Arya Penangsang.
                   Siang malam Raden Jaka Tingkir memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa memohon petunjuk kepada Tuhan Y.M.E supaya ada jalan Keluar baginya tidak mungkin sendirian mengalahkan Orang sesakti Raden Arya Penagsang.Akhirnya Raden jaka Tingkir memohon sahabatnya yang tak kalah sakti dengan Raden Arya Penagsang yakni Anak seorang waliullah yaitu Sayyid Maulana Akhmad Adzimat Khan Al- Kubro yang terkenal dengan panggilan Ki Ageng Nis ( Ki Gede Pemanahan  / Ki Bagus Saqhom.
                   Terjadilah Kesepaktan Strategi antara Raden Jaka Tingkir dengan Ki Ageng Pemanhan dalam taktik mengalahkan Raden Arya Penangsang tetapi kesepakatan strategi tersebut diketahui oleh Anak laki – laki yang mulai dewasa yaitu anak dari Ki ageng Pemanahan yang sejak kecil dipunggut oleh Raden Jaka Tingkir yaitu Sayyid Zainal Abidin Adzimat Khan Al – Kubro yang terkenal dengan panggilan Senopati Ing Alaga Raden Sutowijoyo ( Kelak menjadi Raja Mataram Islam Pertama ).
                   Raden Sutawijaya maju kehadapan 2 ayahnya tersebut agar ia saja yang membantu raden jaka tingkir karena Raden jaka tingkir berjasa besar mengasuhnya sejak bayi hingga ia dewasa bahkan didiknya langsung Ilmu Kesatriyaan Oleh Raden jaka tingkir disamping mendapat gemblengan sendiri ilmu- ilmu Kesaktian oleh kakeknya di Parang Kusumo yakni Waliullah maulanan Mukhammad Fadlulloh Adzimat Khan ( Pendatang dari Madinah yang menikahi salah satu Putri Brawijaya V ) dan ikut berjuang bersama – sama Raden Patah juga Wali Songo disaat melawan dan menghabiskan Rezim Giriwardhana  dulu diwaktu Giriwardhana menjajah Majapahit
                   Sesudah persiapan sudah matang maka Ratu kalinyamat istri almarhum Pangeran Hadiri selaku wakil dari Pihak keluarga Korban dari para Pangeran yang terbunuh menantang Raden Arya Penangsang untuk melawan wakilnya yakni Raden Jaka Tingkir.
                   Mendengar tantangan tersebut Raden arya Penagsang terbakar hatinya menyanggupi tantangan tersebut bahkan menertawakan dianggapnya ringan Raden jaka tingkir tersebut. Ketika Raden Arya Penagsang melihat Raden jaka tingkir diatas Kuda Perang jantan berada di tengah – tengah Lapangan depan Istana, langsung Raden Arya Penagsang menaiki Kuda Perang yang bernama Kyai gagak Rimang dipacunya kehadapan Raden Jaka Tingkir, dikala mereka berhadap – hadapan siap untuk bertempur tiba – tiba datanglah Ki Ageng Pemanhan menaiki Kuda Betina yang cantik dipacunya kedekat Kuda Kyai gagak Rimang , Langsung saja Kuda jantan kyai gagak Rimang mengejar kuda betina cantik yang dikendarai Ki Ageng Pemanahan , Raden Arya Penagsang sangat Panik mengendarainya,
                   Dalam keadaan Panik memegang tali Kendali kudanya yang terlalu cepat tersebut, Tiba – tiba Raden Sutowijoyo datang berkuda dengan sangat cepat menuju kearah Raden Arya Penangsang dan langsung menghujamkan Keris saktinya kearah Perut Raden Arya Penagsang , terburailah ususnya, namun Raden Arya Penangsang berhasil membulat – bulatkan ususnya pada Keris sakti tersebut supaya bisa mengendalikan Kudanya yang sedang Kalap mengejar Kuda cantik yang dinaiki Ki ageng Pemanahan namun Ki ageng semakin memacu cepat Kudanya membuat raden arya Penangsang tak merasakan usus- ususnya terputus oleh Keris sakti yang menancap diperutnya karena terus tergerak – gerak oleh gerakan – gerakan yang keras dari langkah Kuda Kyai gagak Rimang yang kalap, Hingga akhirnya wafatlah Raden Arya Penagsang bersimbah darah diatas Kuda Perangnya kyai gagak Rimang.
                   Raden Jaka Tingkir Tidak menyangka kalau anak pungutnya akan membunuh Raden Arya Penagsang padahal dia sudah menyiapkan Tali sakti Kyai Naga rante untuk dipakai menjerat Raden arya Penagsang supaya diadil dan dihukum sesuai Hukum Negara Kerajaan Demak.
Menyesallah Raden Jaka Tingkir karena kejadiannya diluar rencananya maupun diluar rencana Ki Ageng Pemanhan.
                   Seluruh Rakyat Demak menghadiri Upacara pemakaman Raden arya Penagsang, bagaimanapun beliau adalah salah satu Pangeran Kerajaan.
Raden jaka tingkir dan Kiageng Pemanhan menghadap ratu kalinyamat dengan menyesal dan memohon amppun Karena kejadianya diluar rencana mereka. Ratu kalinyamat menjawab bahwa itu semua sudah menjadi suratan takdir oleh Tuhan Yang maha Esa , yang mana siapapun yang membunuh suatu saat akan terbunuh, seperti ucapan Empu Gnadring pada Ken arok bahwa siapapun yang membunuh suatu saat akan terbunuh bahkan mengutuk keris yang dibawa oleh Ken Arok.
                   Setelah Ratu Kalinyamat menyerahkan tahta Kerajaan Demak dengan Ikhlas kepada Raden Jaka Tingkir ( Lengser Keprabon Madeg Pandito ).,sepeninggal penyerahan Kerajaan Demak. Ratu Kalinyamat semakin Khusu’ melakukan laku hakekat untuk mencapai ma’rifatullah demi kesejahteraan Keluarga, Bangsa Negara dan seluruh Rakyat Demak serta Dunia akhirat Hingga Tua Renta. Makam Beliau ada dibelakang Masjid Demak Jawa tengah

Senin, 21 Juli 2014

PANGIWO - PANENGEN JILID IV AKHIR 2014

PANGIWO – PANENGEN JILID  IV
Alhamdulillahi robbil alamin telah selesai penulisan Kitab Pangiwo Panengen jilid IV
Mudah – mudahan penulisan ini bisa membuka mata hati kita bahwa bangsa Penjajah khususnya Belanda telah menutupi Penulisan Perjalanan Sejarah Bangsa Besar yaitu INDONESIA RAYA yang merupakan sejarah perjuangan WALISONGO Dan Akar Sejarah MAJAPAHIT yang saling berkesinambungan dengan AGAMA ISLAM yang Mayoritas dianut oleh Bangsa INDONESIA, maka wajarlah bahwa sejarah harus kita ingat selamanya darimanakah kita ,siapakah Bangsa Indonesia sebenarnya.bahkan Presiden Pertama kita Ir. Soekarno dalam pidatonya yang terkenal dengan JASMERAH ( jangan sekali – kali meninggalkan sejarah )
    Penulisan Kitab Pangiwo Panengen ini terdiri dari V ( lima ) jilid yang mana telah selesai sebanyak IV ( empat ) jilid yang kesemuanya merujuk kepada Kitab Pangiwo Panengen yang ditulis Ki padmosusastro yang diterbitkan Th. 1902.dan boleh dibaca oleh kalayak umum serta Kitab Aqsosul Ambiya’ serta Punjer Wali Songgo dan Kantor Statitik Arrobithoh Al Alamiyah Al Maktab Addaimi (kantor pemelihara Sejarah dan Statistik Allawiyin) Jl. Nangka 3 – Komplek Antilope II Jatibening II – Bekasi 17412, yang dipimpin oleh Drs. Aburumi Zainal Lc. yang terkenal dengan nama Habib Zainal Abidin As Soqoof.
    Mudah – mudahan Penulisan Kitab – kitab sejarah ini ,bisa membuka wawasan kita bahwa Islam adalah agama yang mulia yang mana membutuhkan pengikut – pengikut yang mengerti dan memahami Agama Islam secara kaffah dan menjadikan Sejarah adalah Pengetahuan untuk belajar bahwa hidup ini adalah mata rantai untuk belajar dan memahami arti kebenaran dan garis keturunan sehingga akan tahu bagaimana mereka dilahirkan dan bagaimana Pengabdian yang sebenarnya untuk kehidupan ini.
    MAJAPAHIT ,WALI SONGO, ISLAM  adalah kesatuan sejarah yang tak dapat dipisah – pisahkan karena mereka berkesinambungan membentuk sebuah kesatuan Sebuah Negara besar INDONESIA yang mana harus kita pelajari dan berusaha melestarikan Peninggalan – peninggalan sejarah untuk mengetahui siapakah dan darimanakah punjer atau Akar sejarah kita berasal.
    ISLAM adalah agama final yang tak akan ada kebenaran selain Agama Islam, tinggal kita pemeluknya yang mengamalkan dan mempelajari dengan sungguh – sungguh , dan Generasi Muda harus menyakini bahwa WALI SONGO adalah betul betul CERITA SEJARAH bukan cerita sinetron dan bukan cerita karangan Sineas – sineas INDOSIAR yang banyak menanyangkan Cerita WALI SONGO namun dibumbui dengan cerita – cerita masa kini bercampur baur.
    Terakhir mudah – mudahan penulisan ini bisa bermanfaat untuk kami dan juga semua yang telah membantu hingga terbitnya Kitab Pangiwo – Panengen Jilid IV. Juga tak lupa kami sampaikan terima kasih kepada Ibu Endang Permata Asri yang telah bersusah payah mengumpulkan melalui catatan – catan tulisan tangan beliau hingga tersusun rapi menjadi Kitab Pangiwo – Panengen ini, Saran dan Kritik silahkan di alamatkan ke cahayapakis@gmail.com.cahaya2012@yahoo.co.id.cahaya2011@hotmail.com/www.kyaidjawansamudro.com



                                Wassalam



                            Kyai Djawan Samudro










Kerajaaan majapahit dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas hampir seluas Asia Tenggara dengan ibukotanya kutaraja mojokerto (kini kabupaten mojokerto) dengan rajanya Prabu Rajasa Sanggrama Wijaya Jayawisnu Wardhana (Raden Wijaya) tahun 1293m – 1309m beliau mempunyai permaisuri dengan beberapa selir.Beliau dengan permaisurinya Ragapadmi Tribuana Gayatri (putrinya Prabu Kertanegara raja Singhasari) mempunyai 2 orang putri yang terkenal cantik - cantik yaitu:
1.Putri Tribuwana Tungga dewi Jayawisnuwardhani(menjadi ratu majapahit menggatikan 
abangnya Prabu Jayanegara yang terbunuh di usia muda)
2.Putri Dyah Sri Rajadewi (menjadi adipati di Kediri)
Raden Wijaya dengan salah satu selirnya Dharapethak/Indraswari mempunyai anak laki - laki Prabu Jayanegara yang terbunuh oleh tabib/dokter pribadinya pada usia 25 tahun.Kemudian kerajaan majapahit di pegang oleh adiknya yakni Ratu Tribuana Tunggadewi Jayawisnuwardhani,mulai memegang negara umur 17 tahun (tahun 1328m – 1350m) yang menikah dengan perwira muda majapahit Pangeran Cakradara dan mempunyai anak laki - laki yakni: Prabu Hayam Wuruk (Brawijaya III tahun 1350m – 1389m).
Di bawah kekuasaan Prabu Hayamwuruk,majapahit maju pesat sejak majapahit Gajahmada bersumpah ,,Amukti Palapa,, yang beliau ucapkan pada masa iburaja Hayamwuruk berkuasa (tribuana tunggadewi) Prabu Hayamwuruk menikah dengan permaisuri putri Indidewi (berasal dari Tiongkok) mempunyai 1 orang anak yakni: 1.Putri Srigitarja yang menikah dengan seorang pendeta muda yakni Hyag Wekas ing Syoka/wisesya.
Ratu Srigitarja Jayawisnuwardhani memerintah kerajaan majapahit pada tahun 1389m – 1344m dimulai pada usia 15 tahun.Kemudian beliau wafat dan digantikan oleh suaminya sambil menunggu anaknya dewasa.Suaminya Ratu Srigitarja Hyag Wekas ing Syoka berkuasa tahun 1344m -1477m disebut Brawijaya IV.Ratu Srigitarja dengan Hyag Wekas ing Syoka/Brawijaya IV mempunyai 2 orang anak yaitu :
1.Putri Suhita/Kencana Ungu 1428m – 1447m
2.Pangeran Kertabhumi/Kertawijaya (1447m – 1450m) Brawijaya V
Setelah kedua orang tuanya meninggal,Putri Kencana Ungu memerintah pada usia 16 tahun bergelar Ratu Suhita(th 1428m – 1447m)yang terkenal jelita se-Asia yang hampir setiap hari bertapa dalam sumur di Keputrenya untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa karena beliau seorang gadis dan tiada kedua orangtua,bersamaan setelah mulai banyak pemberontakan dari wilayah yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mojopahit.Namun semuanya itu malah kalah tangguh dengan pasukan - pasukannya Majapahit yang masih kuat - kuat dan mempunyai pos - pos di ujung barat yakni Tumasik (Singapore),Pahang(malaysia) hingga ujung timur yakni Swarna Bumi Patani (kini Propinsi Thailand Selatan) Moro (Filipina Selatan) hingga pesisir P.Jawa sebelah selatan.
Pemberontakan yang paling hebat adalah pemberontakan dari sebelah timur P.Jawa yakni dari Kabupaten Blanbangan yang di pimpin oleh Bre Wirabumi (Raden Menak Jinggo/putra dari Bre Wira Kramawardhana)masih saudara sepupu dari Ratu Suhita/Kencana Ungu sendiri.Bre Wirabumi ingin menguasai seluruh Majapahit dengan jalan ingin menikahi Ratu Suhita sendiri akan tetapi Ratu Suhita tidak mau dan tak ingin menyerahkan tahtanya kepada siapapun.Akibatnya Bre Wirabumi/R.Menak Jinggo menyiapkan pasukan besar - besaran untuk menghancurkan majapahit dan mengambil alih tahta Ratu Suhita yang mana  Bre Wirabumi terkenal sakti mempunyai senjata dari tiongkok berupa gada besi kuning yang sekali angkat saja langsung berpuluh - puluh orang meninggal.
Hal tersebut sangat  merisaukan hati Ratu Suhita beserta seluruh pejabat - pejabatnya dan mencari cara bagaimana menghancurkan Bre Wirabumi sebelum berangkat keluar Blanbangan menuju Kutaraja Majapahit Ratu Suhita pada masa itu masih berumur 19 tahun setiap hari bertapa dalam sumur keputrenya memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa supaya ada wagsit/wahyu tentang siapa/bagaimana cara menghancurkan Bre Wirabumi.
Jadi masa itu di ujung P. Sumatra diam - diam telah berdiri kerajaan kecil dengan rajanya beragama islam yakni Kerajaan Samudra Pasai (kemudian menjadi Kesultanan Aceh) yang didirikan oleh Da’I (pendakwah islam) sambil berdagang dari Rusia Selatan yakni Ibnu Basurah.Walaupun kerajaan kecil sangat makmur dan aman dengan penduduknya sebanyak para pedagang - pedagang dari Arab(A), China(C), Eropa(E) Hindustan(H),dari singkatan huruf - huruf tersebut di jadikan satu menjadi ACEH.
Bersamaan masa itu kekhalifaan islam masih kuat masih di pimpin kesultanan turki dan perokonomian maju pesat hingga para pendakwah islam dengan leluasa menyebar di bumi sambil berdagang dan banyak yang mempunyai pos – pos pedagang sampai di P.Jawa dan lebih - lebih sampai di P.Madura,yang mana di P.Madura telah banyak pesantren - pesantren walaupun kecil - kecil.
Di daerah pengging (kini Jogjakarta/Yogyakarta) pada daerah Talun Ombo/Talun Amba/Paluamba di mana seorang pemuda bernama Sayyid Alwi Adzimat Khan merantau meninggalkan daerahnya menuju Kutarajasa Majapahit menuju rumah paman tertuanya yang menjadi patih sepuh/tua Kerajaan Majapahit yakni Patih Damarmanik Karena Alwi Adzimat Khan sangat ingin menjadi salah satu prajurit Majapahit sebab Alwi Adzimat Khan ingin berbakti pada negara dan merasa mempunyai bekal ilmu baik kanuragan kedigdayaan maupun ilmu kesatriyaan yang pernah di pelajarinya pada beberapa perguruan.
Tak lama tinggal pada Patih Damarmanik ,Alwi Adzimat Khan sangat berduka karena paman tertuanya tersebut meninggal dunia namun dia dititipkan pada adik ipar pamannya yang menggatikan menjadi patih kerajaan yakni Patih Logender.Beliau sangat sayang pada Sayyid Alwi karena semangat ingin berbakti pada negara,di perlakukannya sangat baik oleh Patih Logender.
Selama tinggal di Kutaraja Mojokerto,orang - orang Majapahit memanggilnya dengan panggilan Raden Damarwulan karena wajah dan fisiknya sangat rupawan berkulit bersih bagaikan bulan purnama.Yang mana Patih Logender mempunyai 2 orang anak laki - laki kembar yang umurnya sama dengan Raden Damarwulan yakni Raden Layangseta dan Raden Layangkumitir ,dan seorang anak wanita yang sudah remaja bernama Dewi Anjasmara 2 pemuda kembar Patih Logender tersebut sangat iri hati pada Raden Damarwulan,hingga 2 saudara kembar tersebut melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan nama baik Raden Damarwulan baik itu dengan cara fitnah dan sebagainya.Hingga terjadilah fitnah yang mana Raden Damarwulan harus mendekan di dalam penjara,semuanya itu di laluinya dengan sabar,Patih Logender semakin kasihan melihatnya.
Suatu hari Kerajaan Majapahit mengumumkan Sayembara /perlombaan setelah Ratu Suhita/Ratu Kencana Ungu mendapat wangsit/wahyu dari Yang Maha Kuasa tentang siapa yang bisa mengalahkan Bre Wirabumi dan menyelamatkan kerajaan.
Isi sayembara tersebut adalah siapapun yang mengalahkan Bre Wirabumi dan membawa kepalanya kehadapan Ratu Suhita,jika laki - laki akan di jadikan suaminya,jika perempuan akan di jadikan saudari terdekatnya dan di jamin hidupnya oleh istana Kutaraja.
Inilah jalan terbaik bagi Raden Damarwulan,Patih Logender menyuruh Raden Damarwulan untuk mengikuti sayembara tersebut. Siapa tahu bisa merubah nasibnya.Terjadilah perang besar yang disebut dengan perang undur - undur antara Kerajaan Majapahit dengan pasukan blanbangan yang di pimpin sendiri oleh Bre Wirabumi /Raden Menak Jinggo.Yang mana 2 istri selir Raden Menak Jinggo yaitu Putri Puyengan(dari Pasuruan) dan Putri Wahito (dari Probolinggo) berhasil mencuri senjata Gada besi kuning milik Bre Wirabumi dan di berikan kepada Raden Damarwulan.
Sejak senjata tersebut di pegang oleh Raden Damarwulan, maka Bre Wirabumi berhasil di kalahkan dan meninggal di atas lantai kayu, sebab bila jatuh ketanah beliau bisa hidup lagi karena mempunyai ajian Rawe Rontek. Lalu kepala beliau di potong dan di bawa oleh Raden Damarwulan beserta selir Raden Menak Jinggo tersebut sebagai saksinya kehadapan Ratu Suhita di istana Kutaraja Mojokerto.Setelah berada di istana,Ratu Suhita tahu bahwa wajah Raden Damarwulan terlihat dalam wangsit/wahyu yang datang padanya saat bertapa dulu dalam sumur keputrennya.
Akhirnya Raden Damarwulan/Sayyid Alwi Adzimat Khan menikah dengan Ratu Suhita/Ratu Kencana Ungu dan mempunyai 3 orang istri selir yaitu:
-      Dewi Anjasmara(putri Patih Logender)
-    Dewi Puyengan
-    Dewi Wahito
Kerajaan Majapahit kembali aman di pimpin Ratu Suhita dan suaminya Raden Damarwulan.
Pada masa itu kedatangan tamu dari tiongkok yakni utusan kaisar Eng Lok Kun membawa expedisi sangat besar yaitu Panglima Angkatan Laut Mukhammad Cheng Ho/Cheng He,setelah Cheng Ho kembali ke tiongkok dan setelah pensiun beliau datang secara pribadi dengan beberapa pengikutnya mendarat di pelabuhan tanjung emas – Semarang serta mendirikan sebuah masjid.Namun karena tidak terawat setelah M.Cheng Ho meninggal maka lama kelamaan masjid tersebut menjadi kuil yaitu kuil gedog batu – Semarang.
Sedangkan makam laksamana M.Cheng Ho ada di belakang kuil tersebut yang terawat rapi sampai kini,di lestarikan oleh penduduk setempat.
Raden Damarwulan dan Ratu Suhita mempunyai anak seorang laki- laki yakni sayyid Qudbuddin Alwi Adzimat Khan.
Dan RadenDamarwulan dengan putri Dewi Anjasmara mempunyai anak seorang laki- laki  bernama Sayyid Sattar Alwi Adzimat Khan dan dengan istrinya yang lain tidak berputra,makam Raden Damarwulan berada di atas gunung Kandangan (sungai kecil di pegunungan tengger) pada daerah Desa Nongkojajar – Kecamatan Purwodadi – Kabupaten Pasuruan.
Sedangkan Ratu Suhita makamnya berada di daerah pemakaman Troloyo – Trowulan – Mojokerto.Namun makam beliau brada di tengah - tengah pemakaman umum dan berada dalam sebuah bangunan kecil bersih, siang malam lampu yang terus bersinar dan berdampingan dengan pemakaman Dewi anjasmara.
Kalaupun buku - buku peninggalan Belanda menyatakan bahwa Kencana Ungu dengan Raden Damarwulan tidak mempunyai anak,kita tidak heran bahwa kaum penjajah (Belanda) tidak ingin adanya rasa persatuan bangsa pada bumi Nusantara,di khawatirkan oleh Belanda akan timbul pergerakan dari segala lapisan masyarakat baik ningrat,santri maupun masyarakat umum bersatu untuk menentang penjajahan.Selama 350 tahun kita tidak hanya di tipu melainkan di bodohkan dan di tidur lelapkan oleh penjajah Belanda sedangkan penjajah Belanda selama itu menguras hasil dibumi Nusantara dan sebagian barang - barang berharga milik kerajaan – kerajaan dulu banyak berpindah tempat.Arca emas Ken Dedes pun ada di museum Leiden – Netherland.Dan almarhum Presiden Soeharto yang berhasil mengambil kembali arca emas tersebut dan di ganti arca Ken Dedes dari perunggu,kini kini arca emas tersebut berada di museum negara Jakarta.
Apakah sejujurnya mereka (penulis - penulis belanda) menunjukan tulisan – tulisan  kuno sesuai dengan aslinya? Ataukah mungkin sudah di ubah di sana – sini? Kita tak harus percaya 100% kepada(penulis - penulis sejarah/belanda) karena penjajah menulis untuk kepentingan pemerintahan jajahan,kalau perlu semua yang di kusainya bisa diubahnya sesuai dengan yang di inginkan penjajah Belanda.
Pada saat baru saja Indonesia merdeka tahun 1945 hampir semua buku - buku pedoman sejarah masih buku - buku sejarah yang berhasil ditulis oleh ahli purbakala Belanda. Ratu mereka hanya menyatakan bahwa Suhita/Kencana Ungu menikah dengan Raden Damarwulan /Damar Sasongko tidak pernah di jelaskan. Sebenarnya Raden Damarwulan itu siapa?nama asli lahir itu siapa?daerah Palamba / Talun Amba itu di wilayah mana?datang dari keluarga ningrat / bukan atau mempunyai marga / tidak. Sengaja pemerintah belanda menutup asal - usul tersebut karena bila di ketahui nama marga seseorang, jelas bila di ketahui asal - usul orang tersebut bahkan leluhur asal orang tersebut yang akibatnya masyarakat umum hanya tahu Raden Damarwulan muncul secara tiba - tiba sebagai penyelamat negara Majapahit.
Namun dari pihak keraton banyak mempunyai buku - buku tentang Raden Damarwulan dan bahkan pihak internasional milik persatuan para habaib / habib di seluruh dunia bahkan museum di Turki mempunyai catatan hubungan khalifah - khalifah mulai mu’awiyah,khalifah Abbasiyah dan Sultan - sultan Turki dengan raja - raja maupun ratu - ratu yang silih berganti di P.Jawa.
Menurut catatan Rabithah Al Alawiyah Al Maktab Addaimi milik persatuan para habib Internasional baik keturunan Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi thalib maupun Sayyidina Hussein bin Ali bin Abi thalib yang mempunyai kantor pusat di madinah dan kantor cabang di Jakarta bahwa Pangeran Sayyid Qudbudin Alwi Adzimat Khan adalah Brawijaya Pamungkas / penutup dengan wilayah Majapahit kecil dan tunduk pada Krajaan Demak,bukan anak dari raja Kerthabumi / Kertawijaya / Brawijaya V tetapi anak dari ratunya Majapahit besar yakni Ratu Kencana Ungu dengan Raden Damarwulan / pemuda dari Talun Amba / Palamba di pengging/Ayodya-karta yang aslinya bernama Sayyid Alwi Adzimat Khan di tinggal wafat ibunya sejak lahir dan di bawa pindah - pindah tempat oleh Ayahandanya dan sejak Ayahandanya wafat di titipkan ke wali yang mempunyai perguruan/pesantren kecil di JawaTengah, setelah dewasa datang ke salah satu keluarga dari almarhum Ayahandanya yang menjadi patih sepuh di kerajaan Majapahit yakni Patih Damarmanik.
Seperti halnya Patih Damarmanik, nama aslinya siapa?sebagai keluarga dengan ayah Damarwulan sebagai keluarga sedarah / ipar?tak pernah ada penjelasan dari catatan manapun, yang jelas Damarwulan datang mengabdi pada patih sepuh Damarmanik yang masih keluarga. Kalau Damarwulan jelas asal usulnya pada catatan persatuan habib internasional karena anaknya:Pangeran Qudbudin Alwi memakai nama Adzimat Khan seperti dirinya yakni Alwi Adzimat Khan. Jadi bisa diketahui asal usul leluhurnya.
Dari hal tersebut bisa diketahui bahwa penulis – penulis Belanda tak semuanya mencatat sesuai dengan aslinya dilihat dulu mana yang mengungtungkan penjajah/tidak. Sangat mengkhawatirkan penjajah bila di catat sesuai aslinya yang kemungkinan akan menimbulkan rasa persatuan dalam diri seluruh lapisan masyarakat hingga timbulah rasa nasionalisme yang besar yang lebih menakutkan keberadaan pemerintah Belanda di bumi Indonesia.
Tugas generasi muda lebih menggali kembali dengan kritis apapun milik nenek moyang Indonesia supaya tak brpindah tempat ke negara lain dan apaun milik bumi Indonesia/ di tangan sendiri oleh sarjana - sarjana Indonesia tidak mengekor nama – nama sarjana dari negara lain.
Pada masa itu para pendakwah - pendakwah islam dan para wali(sebelum datagnya wali 9) telah lama memenuhi kota - kota besar dan pelabuhan – pelabuhan yang berada di bumi nusantara dengan jalan berdagang. Personil mereka dari timur tengah telah banyak menikahi penduduk setempat dan banyak mempunyai gudang –gudang perdagangan pada kota - kota besar di P.Jawa,lebih- lebih Kutaraja Majapahit.
Namun setelah Ratu Suhita dan Raden Damarwulan wafat, rakyat kurang berkenan bila yang menjadi raja adalah anak dari Ratu Suhita dan Raden Damarwulan yakni Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan, sebab garis ayah bukan dari kerajaan Brawijaya, maka rakyat berkenan pada Pangeran Kertabumi (adik kandung Ratu Suhita) yang menjadi raja bergelar raja Kertawijaya/Brawijaya V
(thn 1447m – 1450m)
Sejak raja Brawijaya V menjadi raja, negara sudah ada dalam keadaan pecah belah, sudah banyak negara - negara taklukan yang melepaskan diri menjadi kerajaan kecil yang berdaulat. Di dalam istana pun sudah trjadi perpecahan - perpecahan.
Majapahit telah menjadi negara lemah yang kurang berdaulat,tak ada wibawanya,keamanan sudah jauh berkurang dan perekonomian merosot tajam. Tapi didalam kas negara dan kekayaan istana terdapat koin - koin emas,permata - permata dan kekayaan lainnya yang tak trnilai harganya peninggalan kejayaan kerajaan sewaktu di pegang oleh leluhur - leluhur raja Kertawijaya/Brawijaya V yang belum pernah tersentuh pihak umum.
Semuanya itu menyebabkan kecemburuan sosial bagi rakyat dan kerajaan -  kerajaan lain yang telah lama mengincarnya.
Datanglah utusan dari kerajaan Keling Kediri yang merupakan taklukan Majapahit supaya Brawijaya V menyerahkan tahta dan kekayaannya pada raja Keling Kediri yaitu Prabu Udara,kalau tidak Prabu Udara akan mengambil tahta dengan paksa.
Pada waktu itu persatuan para wali beserta para santri - santrinya menawarkan tenaga untuk bergabung dengan tentara Majapahit melawan Prabu Udara dengan pasukannya Ghirindrawardhana. Tetapi di tolak oleh brawijaya V dan cukup beliau sendiri bersama tentara - tentara Majapahit akan melawannya sendiri. Terjadilah perang perebutan tahta yang seru,akhirnya Brawijaya V dengan tentara Majapahit kalah total,Prabu Udara menjadi raja Majapahit (th 1450m – 1477m) dan tentara Girindra wardhana menduduki pos - pos penting di Kutaraja.
Prabu Brawijaya V beserta keluarganya dan para bangsawan yang ikut beliau serta tentara - tentara yang setia kepadanya lari mengungsi keseluruh P.Jawa,terkadang dengan memakai nama samaran supaya tidak di bunuh oleh mata- mata  Prabu Udara,termasuk Prabu Brawijaya V sendiri memakai nama samaran Raden Gugur di desa lereng Gunung Lawu Ngawi Jatim.
Prabu Brawijaya V semasa menjadi raja mempunyai istri selir yang di cintainya yakni Dewi Dwarawati yang berasal dari negri Chanpa / Kamboja beragama islam (merupakan bibi dr Sunan Ampel – Surabaya) namun tidak berputra, akhirnya Brawijaya V mengambil permaisuri dari funan (Tiongkok Selatan) diberi nama Dewi Ratnajuwita dan hamil.
Dalam keadaan hamil,beliau terfitnah oleh para selir – selir yang lain yang banyak sekali,akhirnya raja terbujuk fitnah dan di usirnya permaisuri yang sedang mengandung keluar dari istana. Dengan bekal kekayaan yang banyak dari suaminya (Brawijaya V), permaisuri berlayar di iringi armada yang setia padanya yang anggotanya terdiri dari murid - muridnya Sunan Ampel (R.Akhmad Rahmatullah/Bung Swie Hoo) Surabaya yang dipimpin oleh salah satu santri pedagang dari Tiongkok yaitu Sung Hing yang sakti. Kepergian prmaisuri bukan jalan yang aman baginya melainkan penuh bahaya sebab nyawa permaisuri dan putra mahkota dalam kandungan di incar oleh orang - orangnya Prabu Udara dan orang - orangnya para selir - selir Brawijaya V yang tidak menyukai permaisuri serta tak menyukai lahirnya putra mahkota.
Dalam situasi tidak aman rombongan armada permaisuri yang dikomando oleh Sung Hing mendarat di pelabuhan bengkalan – P. Madura untuk menghindari kapal - kapal musuh yang mengejar permaisuri. Di P. Madura Sung Hing mengajari orang - orang Madura membuat seni tali - temali/ tampar.
Dalam keadaan aman,armada permaisuri berlayar terus ke lautan utara Jawa. Dalam keadaan kurang aman Sung Hing mengajak mereka mendarat di pelabuhan kecil kota Jepara. Selama singgah di Jepara,Sung Hing mengajari orang - orang Jepara seni ukir mengukir.
Kemudian rombongan permaisuri berlayar terus sampai P. Sumatra, yang mana Sung Hing meminta perlindungan bagi permaisuri putra mahkota dalam kandungan kepada penguasa Sumatra Selatan yakni Adipati Pailin Bang (kelak orang - orang menyebutnya Palembang). Mereka diterima dan dilindungi oleh Adipati Pailin Bang beserta seluruh rakyat Sumatra Selatan.
Pailin Bang adalah bekas Jendral Kepala Keamanan Putri Ong Tien Hio (putri kaisar Hong Gie Tiongkok Selatan) sewaktu hamil pada masa berlayar mencari suaminya yakni Waliullah Sunan Gunung Jati Lie Guang Chang dan Lie Guan Hien.
Baik Pailin Bang,Lie Guan Chang,Lie Guan Hien mereka semuanya akhirnya menjadi murid - murid setia Sunan Gunung Jati.
Hanya Pailin Bang yang di angkat oleh Sunan Gunung Jati menjadi Adipati di Sumatra Selatan,sedangkan Lie Guan Chang dan Lie Guan Hien tetap setia menjaga putri Ong Tien Hio hingga wafatnya. Makam mereka berada di pemakaman Keraton Kesepuhan Cirebon – Jawa barat.
Setelah Pailin Bang wafat,Sung Hing menggatikan menjadi Adipati di Sumatra Selatan bergelar Adipati Arya Damar dan menikahi bekas permaisuri Raja Brawijaya V yakni Dewi Ratnajuwita. Yang mana putra mahkota Majapahit sudah berumur 2 tahun bernama Pangeran Jin Bun (kelak R. Patah) / Pangeran Hasan.
Sung Hing / Adipati Arya Damar dgn Dewi Ratnajuwita mempunyai anak laki - laki yang bernama Raden SungKinsan/Raden Husein yang kelak akan menjadi Adipati Terung/Lasem dan pada masa kerajaan Demak di puji oleh Raden Patah / Jin Bun berperang melawan Portugis yang ingin menguasai pelabuhan Sunda Kelapa, Raden Sung kinsan berjuang brsama Raden Fatahillah (pangeran Fadilah Khan dari Gujarat – India Belakang) yang menjadi menantu Sunan Gunung Jati – Cirebon, hingga portugis kalah dan meninggalkan Sunda Kelapa (kini Jakarta)selama - selamanya dan pindah bercokol di bumi timor - timor (timor leste).
Untunglah sewaktu tentara Girindrawardhana datang menyerbu istana Majapahit sang permaisuri dalam keadaan hamil sudah terusir dari istana dan sudah dalam keadaan berlayar di lautan,jadi hanya prabu Brawijaya V besrta selir - selir dan anak - anak mereka yang mengalami serangan oleh prabu Prabu Udara dengan tentara Girindrawardhana. Sebagian keluarga Prabu Brawijaya V banyak yang gugur dan yang selamat melarikan diri mengungsi termasuk Prabu Brawijaya V.
Selama Majapahit dicengkram Prabu Udara dengan tentaranya,keadaan rakyat semakin susah, keamanan porak poranda;siapa yang kuat yang pro Girindrawardhana itulah yang menang. Wilayah Majapahit tinggal seperempatnya saja,banyak rakyat yang lepas mendirikan negeri sendiri - sendiri.
Rakyat yang mayoritas hindu,budha dan animisme / dinamisme sangat tertindas oleh kesewenang - wenangan tentaranya Prabu Udara. Rezim Prabu Udara hanya mencari kekayaan saja.
Agama islam sangat minoritas tetapi mempunyai perekonomian yang kuat,para pedagang - pedagang dan para pangeran - pangeran Majapahit yang beragama islam terutama anak-anak pangeran Qudbudin Alwi A. Khan (anak satu - satunya Ratu Suhita/Kencana Ungu dgn Raden Damarwulan/Alwi A. Khan) yang mana pangeran Qudbudin Alwi A. Khan dengan beberapa isterinya mempunyai anak - anak sebanyak 105 orang,50 orang wanita 65 orang laki - laki.
Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan sewaktu berdiri kerajaan Demak, beliau diamanahi memimpin wilayah bekas kutarajasa Majakerta (majapahit kecil) yang wilayahnya kembali kecil seperti semula sewaktu baru berdiri oleh Raden Wijaya dulu, yang mana Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan setiap bulan membayar upeti pada kerajaan Demak dan Bergelar Brawijaya Pamungkas / orang pendatang terutama pedagang besar dari Tiongkok menyebutnya dengan Nyoo Laywa.
Anak - anak Qudbudin Alwi A. Khan mempunyai usaha jalur perdagangan internasional dan mempunyai gudang - gudang perdagangan pada pelabuhan – pelabuhan seluruh P.Jawa.
    Pada masa itulah para pendakwah – pendakwah islam dan para wali banyak menolong penderitaan rakyat, lama kelamaan membentuk organisasi social yang dinamakan organisasi social Walisongo yang mana Sembilan Waliullah tersebut bergantian memimpin organisasi setiap jangka waktu tertentu yang telah disepakati mereka bersama. Masing – masing mereka telah mendirikan perguruan pesantren – pesantren disamping mengajarkan ilmu – ilmu agama juga mengajarkan ilmu – ilmu beladiri kanuragan,kedigdayaan,ilmu tata negara dan kesatrian yang mengajarkan cinta tanah air,juga mengumpulkan infaq,shodaqoh dan jaryah dari mereka – mereka yang mampu di bagikan untuk mereka setiap bulan kepada rakyat Majapahit yang mayoritas sedang menderita berat terjajah oleh rezim Prabu Udara degan tentaranya Ghirindrawardhana.
    Seiring dengan berjalannya organisasi Walisongo yang sukses,seiring pula dengan semakin besarnya satu – satunya putra mahkota Majapahit di tanah rantau yaitu Pangeran Jin Bun/Hasan (kelak Raden Patah).
Sejak umur 10 thn Pangeran Jin Bun oleh ibunya (Dewi Ratnajuwita)dititipkan pada pesantrennya sunan Gunung Jati – Cirebon supaya mendapat pendidian agama islam hingga berumur 15 tahun. Setelah pesantrennya Waliullah Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) di kota Kudus – Jawa Tengah, supaya lebih mendalami agama islam dan mendapat ilmu kanuragan,kedigdyaan dan kesatriyaan. Sewaktu berumur 17 tahun Pangeran Jin Bun berguru pada pesantrennya sunan Ampel di Surabaya untuk lebih mendalami segala ilmu terutama ilmu tata negara dan liku – liku berjalannya politik dan kehidupan tata cara istana yang mana dulu sebelum di serang oleh Prabu Udara, keraton/istana Majapahit pernah mengambil (sunan Ampel) sebagai salah satu penasehat negara sewaktu bibi sunan Ampel Dewi Dwarawati menjadi selir 1/utama nya Prabu Brawijaya V dinikahkan dengan putrinya :Dewi Candrawati walaupun sunan Ampel telah mempunyai 2 orang istri yang dibawanya sewaktu belum datang ke P.Jawa yakni Putri Raja Champa / Kamboja dan Putri Raja dari salah satu kerajaan di Tiongkok Selatan. Pada akhirnya Pangeran Jin Bun di nikahkan dengan putrinya sunan Ampel yang tertua yaitu Dewi murtasyah kelak menjadi permaisuri kerajaa Demak.
    Sangat menderita,tidak nyaman dan terbelenggu kebebasan hak – hak diri rakyat di kuasai oleh penjajah,diam – diam dalam hati Pangeran Jin Bun ingin mengusir dan menghabiskan seluruh tentara Girindrawardhana dan Prabu Udara dari bumi Majapahit.
    Dianjurkan oleh Walisongo supaya pangeran Jin Bun mengabdi dulu pada Prabu Udara. Saran tersebut diikutinya yang akhirnya Pangeran Jin Bun diangkat oleh Prabu Udara menjadi Adipati di daerah Bintoro (kini demak).
    Dengan jabatan tersebut memudahkan Pangeran Jin Bun menggalang persatuan rakyat dan lama – lama seluruh lapisan masyarakat berbagai keyakinan bersama sisa – sisa tentaranya Prabu Brawijaya,seluruh keluarga kerajaan yang brada di perantauan besrta Walisongo dan santri – santrinya,mereka dikomandoi Pangeran Jin Bun berjuang bersama – sama berperang mengusir Prabu Udara dan tentaranya Girindrawardhana.
    Akibatnya tentara Girindrawardhana kalah total dan Prabu Udara yang sakti meninggal di tangang Sunan Kudus/Sayyid Ja’far Shodiq. Pihak Majapahit banyak yang gugur,di antaranya yang gugur terdapat Waliullah dari Tiongkok bernama Waliullah Tan Kim Han(syekh Abdul Qodir Assyinni). Dari provinsi FU Jian/Tiongkok Selatan yang merupakan leluhur garis lurus ke atas dari pendiri Nahdlatul Ulama yakni K.H.Hasyim Asya’ri, K.H.Wakhid Hasym dan anaknya K.H.Abdur rokhman wakhid Hasyim / Gusdur presiden Republik Indonesia ke 4. Makam Waliullah Tan Kim Han berada di pemakaman Troloyo – Trowulan – Mojokerto – Jawa Timur. Dan di antara pejuang – pejuang Majapahit yang masih hidup terdapat Waliullah dari Madinah yang menikahi putrinya Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan/Brawijaya Pamungkas yakni Putri Dewi Kencananingrum,Waliullah tersebut adalah Sayyid Maulana Mukhammad Fadlullah Adzimat Khan – Al kubro (Syekh Maghribi – Jawa Tengah) yang berpindah dari Majapahit ke Jawa Tengah mendirikan perguruan pesantren di pinggir laut selatan tepatnya di Parangkusumo. Dari beliaulah menurunkan sultan – sultan Mataram islam, kasunan Surakarta/Solo,mangkunegaran,sultan – sultan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pakualaman. Makam beliau sekeluarga dan murid – meridnya brada di Parangkusumo dan terawat  rapi oleh keluarga kerajaan Ngayogyakarta maupun Surakarta sampai kini. Tidak heran kalau tanah yang berada pada pemakaman sultan – sultan Jawa di pemakaman Bukit Imogiri – Bantul – Jogyakarta adalah tanah yang diambil dari tanah mekkah Al Mukarromah dan dari Madinatul Munawarroh negeri asal Nabi Muhammad s.a.w. dan mengingatkan keluarga kerajaan sultan – sultan Jawa bahwa di antara leluhur sultan – sultan Jawa berasal dari Mekkah dan Madinah.
    Dengan kemenangan Pangeran Jin Bun,di panggilnya Raja Brawijaya V di Gunung Lawu / Ngawi – Jatim pleh mereka semua untuk menduduki tahta kembali. Setelah Raja Brawijaya V bertemu mereka semuanya,raja memutuskan untuk memberikan tahtanya kepada anak kandungnya yaitu Pangeran Jin Bun dan pamit pergi ke Gunung Lawu lagi untuk bertapa (lengser Prabon madeg pandita). Yang mana pada akhirnya Prabu Brawijaya V / Kertabumi berguru kepada Sunan Kalijogo dan berhasil molegya(mencapai kesempurnaan diri dan telah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya,istilah hakekatnya adalah mengetahui guru sejatinya sendiri). Beliau bergelar Kanjeng Sunan Lawu. Makam beliau berada di Alas Ketonggo – Ngawi – Jawa Timur.
    Setelah kepergian Prabu Brawijaya V ke Gunung Lawu, Pangeran Jin Bun menggatikan ayahnya menjadi raja,tetapi beliau teringat kata – kata Sunan Giri(Sayyid Ainul Yaqin A. Khan) sewaktu berhadapan dengan Pasukan Giridrawardhana dulu beliau selalu berucap ,,Sirna haling Kertaning Bumi’’ artinya takkan ada lagi kekuasaan yang berdiri di atas bumi Majapahit hingga akhir kerajaan dikarenakan perebutan kekusaan.Pangeran Jin Bun berunding dengan para Walisongo yang sepakat memindahkan pusat kerajaan menuju Bintoro/Demak. Yang mana seluruh barang – barang istana dan bangunan – bangunan yang penting – penting di istana di pindahan semua ke Bintoro/Demak. Mengenai simpanan harta benda yang melimpah ruah milik keraton Majapahit, oleh Walisongo bersepakat dengan Pangeran Jin Bun dan di depan mata para punggawa – punggawa/pejabat – pejabat, tentara – tentara Majapahit dan wakil – wakil rakyat Majapahit,……… harta karun Majapahit tersebut di titipkan pada raja – raja lelembut yang berada di seluruh pelosok P. Jawa, tiba – tiba tumpukan harta karun tersebut di depan mereka lenyap karena raja – raja lelembut datang mengambil titipan tersebut atas izin Walisongo dengan Pangeran Jin Bun.
    Adanya kesepekatan antara Walisongo bersamaan Pangeran Jin Bun dengan raja – raja lelembut di seluruh P. Jawa bahwa harta karun tersebut tidak boleh di berikan kepada sembarang generasi melainkan kelak diizinkan kelak buat rakyat Nusantara sewaktu di pimpin oleh Kepala Negara bergelar Satriya Pinandita Sinisihan Wahyu yang sangat amanat kepada rakyatnya,pada masa itulah hampir seluruh punggawa – punggawa/pejabat – pejabat Nusantara banyak yang jujur/amanat untuk rakyat di pegang teguh hingga kemakmuran bisa merata. Yang mana pada zaman tersebut rakyat umum bebas tidak membayar pajak, hanya usaha – usaha/pabrik – pabrik saja yang membayar pajak (wong cilik anemu kethok emas wong gedhe bakal gumuyu – karta jamanipun nuli negaranira rengka), begitulah istilah dalam salah satu petikan buku ,,Ramalan Jayabaya”.
    Setelah adanya peralihan kekuasaan dari kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak, diresmikanlah berdirinya Kerajaan Isalam Demak dengan rajanya bergelar Sultan/Raja Hasan/Jin Bun. Hal tersebut ditandainya dengan diresmikannya Masjid Agung Demak pada tahun 1478 masehi. Yang mana setelah peresmian,malam harinya di adakan hiburan rakyat berupa pergelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi dalang adalah Wali Sunan Kalijogo(Raden Sayyid/Gansie Chang) dengan dihadiri seluruh rakyat berjejal – jejal di lapangan depan masjid Demak dengan cerita besar ,,Perang Bharatayudha Jayabinangun” yang dimenangkan Pandawa/Panengen atas Kurawa/Pangiwo. Setelah melaksanakan ibadah haji di mekkah Sultan Hasan/Jin Bun bergelar Sultan Akbar Al Fattah yang mana rakyat menyebutnya Raden Patah.
    Seluruh pusaka – pusaka  kerajaan Majapahit yang dianggap kurang penting dikuburkan semua pada salah satu makam di belakang masjid Demak, sedangkan yang penting dibawa sendiri oleh Raden Patah/Jin Bun.
    Menurut keterangan Walisongo kepada rakyat bahwa sejak kerajaan Demak berdiri adalah bukan masanya saling berebut pusaka – pusaka atau kesaktian – kesaktian melainkan setiap diri untuk merebut ajimat Kalimosodo. Maksudnya, bagi yang bukan islam adalah saling berlomba melaksanakan ibadah menyembah Tuhan Yang Maha Satu dengan cara keyakinan masing – masing yang tujuannya adalah tetap Tuhan Yana Maha Esa. Sedangkan bagi isalm adalah Kalimosodo (Kalimasada) yang berarti Kalimat Syahadat yang terucap sejak dalam alam roh terus masuk ke dalam gua garba atau perut ibu terus hidup di dunia hingga alam kelanggengan tetap mengucap syahdat.
    Reformasi sukses yang pernah terjadi di bumi yang dilaksanakan oleh Organisasi Walisongo karena di dasari ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ketulusan hati dalam pengabdian mengangkat taraf hidup pada rakyat jelata yang tadinya terpilah – pilah dalam kasta – kasta dan terpuruk karena gulung tikarnya sistim pemerintahan rezim Girindrawardhana, dengan adanya reformasi pelan – pelan tapi tulus walaupun bertahun – tahun namun akibatnya mengena di hati rakyat yang dengan sendirinya masyarakat merubah dirinya sendiri.
    Dengan kesadaran cinta tanah air mengikuti apa yang disarankan oleh pangeran Jin Bun/Raden Patah dengan Walisongo dalam merubah sistim kenegaraan. Jadi bukan reformasi yang hanya berjalan sebagai suatu gebrakan saja penuh hingar bingar tetapi kurang mengena di hati rakyat yang akibatnya hanya menimbulkan persaingan – persaingan antar pimpinan – pimpinan maupun persaingan – persaingan antar kelompok masyarakat.
    Adapun susunan organisasi sosial Walisongo terdiri dari 5 periode,yang mana pada periode pertama masih sebagai wadah para wali dan pendakwah – pendakwah islam berkumpul untuk menanggulangi permasalahan yang ada di Bumi Majapahit supaya orang – orang islam berguna bagi masyarakat dan negara namun belum terbentuk secara sistimatis. Yang mana periode pertama dipimpin oleh Waliullah Sayyid Maulana Malik Ibrahim Adzimat Khan yang meninggal pada th 1419m, terlahir di negeri Turki dan besar di Gujarat/India Belakang, berkenalana menyebarkan agama islam dan wafat di Gresik. Makam beliau berada di Gresik. Keturunan beliau yang ke-12 adalah K.H. Alehmad Dahlan (Mokhammad Darwis) yang mendirikan Organisasi Sosial Muhammadiyah (berdiri 1912m di Yogyakarta) yang mana kelak kami ungkapkan nama – nama leluhur KH. Ahmad Dahlan pada jilid V nanti, marga nama Adzimat Khan berasal dari garisnya Waliullah Abdullah A. Khan keturunan dari Sayyid Zainal Abidin r.a. putra dari Ali bin Abi Thalib, dari anak Fatimah r.a. binti Rasulullah s.a.w. dengan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ,yang mana makam Sayyid Hussein r.a. berada di Karbala – Irak karena terbunuh oleh algojonya Yazid bin Muawiyah As Sofyani yakni Shemir orang Irak.
-    Organisasi walisongo II terbentuk th 1421m dengan pemimpinnya Sunan Ampel.
-    Organisasi walisongo III terbentuk th 1463m dengan pemimpinnya Sunan Ampel.
-    Organisasi walisongo IV terbentuk th 1466m dengan pemimpinnya Sunan Ampel.
-    Organisasi walisongo V terbentuk th 1479m dengan pemimpinnya Sunan Giri.
Dalam organisasi walisongo terdapat nama – nama para wali yang termasuk generasi tua sebelum Majapahit di pegang oleh raja terakhir Brawijaya V (Prabu Kertabumi/Kertawijaya), mereka – mereka tersebut adalah :
1.    Syekh Maulana Iskhak Adzimat Khan, terlahir di Madinah/Hejaz(kini Saudi Arabia) dan makam beliau berada di Jl. Garuda – Dsn. Tambakberas – Ds. Tambakrejo – Kec. Jombang – Kab. Jombang – Jatim.
2.    Syekh Jumadi (Al Kubro) Adzimat Khan, terlahir di Azarbaijan (Asia Tengah) termasuk Rusia Selatan dan Wafat lalu dimakamkan di Troloyo – Trowulan – Mojokerto pada th 1465m. Gugur Shuhada membela kerajaan Majapahit melawan Pasukan Girindrawardhana yang di pimpin Prabu Udara dari Keling – Kediri.
3.    Maulana Malik Isro’il berasal dari Turki ahli strategi perang dan ketata negaraan, berdakwah di Jawa Tengah, wafat di Gunung Santri Cilegon – Jawa Barat th 1436m.
4.    Maulana Mukhammad Ali Akbar berasal dari Persia(Iran) ahli pengobatan dan Pertanian, berdakwah di Jawa Tengah, wafat di G. Santri – Cilegon – Jawa Barat th 1436m.
5.    Maulana Hassanudin dari Baitul Maqdis/Jerussalam, ahli menumbali/member tanah Jawa, ahli nujum dan kesaktian – kesaktian, wafat th 1462m di samping masjid Banten Lama, Banten Jawa Barat.
6.    Maulana Aliyuddin berasal dari Baitul Maqdis/Jerussalem dan berdakwah di Jawa Barat, wafat th 1462m di samping masjid Banten Lama, Banten – Jawa Barat.
7.    Sayyid Maulana Mukhammad Al Bakhir (Syekh Subakir) berasal dari Persia/Iran ahli supranatural menumbali/memberi Phatokantanah Jawa dan memindah kerajaan Lelembut (Jin, Bananul Jin, Peri Perahyangan, Syetan, dan sebangsanya). Selesai menumbali/memathoki seluruh P. Jawa, beliau pergi dari P. Jawa dan kembali ke Iran lagi. Alkisah Syekh Subakir bersal dari Iran, tetapi beliau berangkat berdakwah dari pelabuhan besar Istambul dibantu dan ditunjang dengan expedisi beberapa kapal – kapal laut besar yang disponsori pemerintahan Khalifah Islam Turki Sultan Mukhammad 1, yang personilnya terdiri dari cabang – cabang Romawi (bekas Romawi Timur/Bizantium dan bekas Romawi Barat – Italia) yang beragama Islam yang mayoritas mu’alaf (mantan orang – orang Nashrani yang berpindah agama ke islam) dengan setia mengikuti armada expedisinya Syekh Subakir di P. Jawa yang jumlah mereka ± 20.000 orang. Setelah di P.Jawa mereka mereka sebagian besar tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan mayoritas tidak kembali ke negri asalnya dan menikahi penduduk setempat menyatu sebagai penduduk P. Jawa. Sedikit yang mengikuti Syekh Subakir kembali ke Iran maupun Turki terjadi pada th 1462m.
8.    Sayyid Maulana Mukhammad Fadlullah Adzimat Khan(Al Maghribi – Al Kubro) berasal dari Madinah. Menikahi putrinya Brawijaya Pamungkas (Brawijaya kecil) Raden Qudbudin Alwi A. Khan dan berdakwah mendirikan perguruan Pesantren di Parang Kusumo – Jogjakarta Selatan, wafat th 1465m.
9.    Syekh Maulana Malik Ibrahim Adzimat Khan, berasal dari Turki, besar di Gujarat dan wafat di Gresik th 1419m.
Dan nama – nama para wali yang termasuk Generasi penerus/generasi muda yang lebih banyak bersyar/berdakwah, berjuang bersama – sama putra mahkota kerajaan Majapahit yakni Raden Patah dalam mengusir tentara Girindrawardhana dan Prabu Udara dari Majapahit dan mereformasi tatanan negara dari carut marut menjadi negara baru yang di setujui seluruh rakyat Majapahit yakni kerajaan Islam pertama di P. Jawa yakni Demak.
1.    Maulana Akhmad Rohmatullah (Sunan Ampel) terlahir di kota Nanking (Tiongkok Selatan) dengan nama Bong Swie Hoo dan besar di kerajaan  Champa (Kamboja/Indo china) menikahi putri kerajaan Champa, menikahi putri kerajaan Funan(Tiongkok Selatan),berdakwah keliling Asia Tenggara dan berakhir ke P. Jawa diminta oleh Prabu Brawijaya V sebagai penasehat negara dan dinikahkan dengan putrinya: Puri Dewi Chondrowati dan diizinkan mendirikan perguruan pesantren di Kembang Kuning – Ampel Dento – Surabaya juga menikah lagi dengan putrinya Adipati Tuban yakni Putri Dewi Gede Manila, makam beliau di Surabaya – Jatim.
2.    Sunan Bonang (Maulana Maqdum Ibrahim) terlahir di Bong Ang, anak dari Sunan Ampel dengan Putri Dewi Condrowati. Makam beliau di tuban Jatim.
3.    Sunan Drajad (Maulana Qosim) anak dari Sunan Ampel dengan Putri Funan/Tiongkok Selatan atau Nyai Rokhimmah, makamnya di Lamongan – Jatim.
4.    Sunan Giri (Maulana ‘Ainul Yaqin Adzimat Khan/Raden Paku Jaka Samudra) anak dari Syekh Maulana Iskhak A. Khan dengan Putri Dewi Sekardadu binti binti Menak Sembuyu (cucu dari Menak Jinggo/Raden Bre Wirabumi Adipati Blanbangan)Banyuwangi. Makam beliau di Gresik – Jatim.
5.    Sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) bersal dari Baitul Maqdis/Jerussalem, ahli Strategi militer dan ketatanegaraan. Makamnya di Kudus – Jawa Tengah.
6.    Sunan Gunung Jati (Sayyid Syarif Hidayatullah Adzimat Khan) terlahir di Khairowwan/Cairo – Mesir, anak dari raja dinasti Fathimmiyah -  Mesir bernama Sultan Abdullah A. Khan dengan Putri Dewi Rara Santang (putri Prabu Siliwangi Terakhir) menikah di mekkah dan di boyong suaminya ke Mesir. Keturunan beliau menjadi sultan – sultan kesepuhan dan kasultanan Kanoman Cirebon maupun sultan – sultan kerajaan Islam Banten. Makam beliau berada di Gunung jati – Cirebon – Jawa Barat.
7.    Sunan Tembayat/Adipati Pandanarang merupakan murid dari Sunan Kalijaga dan berdakwah DI Jawa Tengah. Makam beliau berada di Boyolali – Jawa Tengah. Merupakan guru ke-2 dari Raden Joko Tingkir/Mas Kerebet(Sayyid Bait Ba’syaiban/Sayyid Umar Faqih Ba’syaiban).
8.    Sunan Kalijaga(Raden Syahid) atau terlahir di Gan Si Chang anak dari Tumenggung/Gubernur Tuban Yakni Raden Wilwatikto II yang aslinya bernama Gan Eng Cu salah seorang pelatih militer dari salah satu kerajaan di Tiongkok Selatan yang diminta oleh Prabu Brawijaya V untuk melatih pasukan Majapahit, lalu Gan Eng Cu diambil menantu oleh Tumenggung Wilwatikto 1 (Tuban), mempunyai 2 anak yakni Gan Si Chang/Raden Syahid/Sunan Kalijaga dan adik perempuan Dewi Rasawulan (Gan Kim Lan) yang dinikahi oleh Empu Supadrya (empu sakti/pembuat keris kerajaan Majapahit). Yang membuat keris Kyai Nagasasra dan pedang sakti Kyai Sabuk Inten (pedang sabuk), ke-2 senjata tersebut tetap sebagai senjata symbol kerajaan sampai kini. Sunan Kalijaga adalah murid dari Sunan Bonang dan berguru juga pada wali – wali tua yang masih hidup waktu itu yakni wali Gan Khe Liong dan Wali Thelingsing, yang mana 2 orang wali tersebut mempunyai kesaktian seperti Empu Bharada(hidup pada masa kerajaan Kahuripan – Erlangga) yang kemanapun bila bepergian jauh selalu terbang di udara,hampir juga seperti Bathara Grinjing Wesi/Wali Malik Abdul Hadid muridnyan Nabi Sulaiman a.s. dulu dari Baitul Maqdis/Jerussalem). Makam wali Gan Khe Liong dan wali The lingsing berada di salah satu pemakaman Islam Kudus – Jawa Tengah.
9.    Sunan Muria (Raden Umar Said) anak dari wali Sunan Kalijaga, berdakwah di Jawa Tengah dan makamnya di gunung Muria – Jawa Tengah.
Alhamdulillahirobil Alamin ,telah selesai penulisan KITAB PANGIWO PANENGEN JILID IV,mudah- mudahan Ibu Endang Permata asri diberi umur panjang sehingga dapat meneruskan perjuangan beliau menulis catatan- catatan sejarah tentang BANI DJAWAN yang merupakan mercusuar Peradaban sejarah terbentuknya BUMI INDONESIA,dan kami Kyai Djawan Samudro sekaligus Penulis, editing dari Nara sumber yang berupa Tulisan tangan beliau ( Ibu Endang Permata asri )
Hingga berbentuk Naskah Digital melalui Blog Kyai Djawan Samudro yang sudah terkenal hingga manca Negara karena kevalidan dan keakuratan sumber sejarah melalui catatan – catatan yang langka.
    Akhirnya kami, Ibu Endang Permata Asri / Kyai Djawan Samudro akan membuat sebuah Buku Tentang KITAB PANGIWO- PANENGEN Mulai Jilid I –V Yang tidak lama lagi akan beredar di Pasaran dengan Label “ Penerbit Tunggal KYAI DJAWAN SAMUDRO. Dan JILID V sebentar lagi akan kami hadirkan di Blog ini.
    Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami Kyai Djawan Samudro. Dengan Nomor HP.081554980751/ 081554980673 /03417393126 Nomor Rekening BRI Syariah 1007870918 an NURKHOZIN,Buku – Buku asli hanya melalui Alamat : JL. Raya Bunut Wetan 980 d/a Cahaya Computer Bunut – Pakis – Malang 65154 ,BUKU yang Asli ada Tanda Hologram Kyai Djawan Samudro dicetak dengan Cover Tebal dengan Foto Kyai Djawan Samudro.
    Mudah – mudahan Alloh meridhoi ikhtiyar kita agar tetap dalam satu Tekad , satu semangat membangun Bangsa Indonesia dalam tatanan yang benar.Semoga apa yang kami tulis bisa bermanfaat bagi kita semua, Amin Ya robbal Alamin .


                                             Malang, 22 Juli 2014



                                Kyai djawan Samudro / Ibu Endang PA

Sumber – sumber di atas adalah :
1.    Ki Padmosusastro th 1898 pujangga Keraton dari  Ngayogyakarta Hadiningrat, kantor G.C.T. Van Dorp d Company – pemerintah Hindia Belanda pada percetakan – percetakan negara kota – Semarang th 1902.
2.    Kitab Aqshosul Anbiya’ oleh sahabat Nabi Mukhammad s.a.w. yakni As Sta’laby r.a. yang diterjemahkan ke dalam bahasa melayu oleh Waliullah Ashari Al Khalidi Rahmatullah.
3.    Punjer Walisongo pada Haul ke 568 ,15 mukharram 1425 H/22 februari 2004m oleh H.Mukhamad Khalil Nasiruddin.
4.    Kantor Statitik Arrobithoh Al Alamiyah Al Maktab Addaimi (kantor pemelihara Sejarah dan Statistik Allawiyin) Jl. Nangka 3 – Komplek Antilope II Jatibening II – Bekasi 17412, yang dipimpin oleh Drs. Aburumi Zainal Lc. yang terkenal dengan nama Habib Zainal Abidin As Soqoof.
5.    Catatan- catatan Kunjungan Ibu Endang Permata asri /Kyai Djawan Samudro diberbagai musium-musium Kraton Yokyakarta –Solo-Cirebon dll.
6.    Berbagai sumber yang mendukung keabsahan penulisan Kitab diatas.





KITAB PANGIWO – PANENGEN



JILID IV




Ditulis kembali oleh :
Kyai djawan samudro


Nara Sumber : Ibu Endang Permata Asri

Selasa, 24 Juni 2014

PEMIMPIN YANG KONSEKWEN ( TIDAK MENCLA - MENCLE )

Pemimpin yang Konsekwen
berbahagialah manusia yang berusaha menjadi Orang jujur,setiap kata adalah laku hidup
apa yang diucapkan sesuai dengan yang pernah diutarakan
sesuai dengan filsafah Orang Djawa
" ajine diri soko Lati "
"ajine rogo soko Busono "
bahkan dalam agama Islam disebutkan Pilihlah Pemimpin yang menjauhi sikap MUNAFIK !!
Karena Sifat Munafik adalah sifat Syetan......
yang ciri- cirinya sudah kita ketahui bersama - sama
ini saja yang dapat saya sampaikan
bilahi taufiq wal hidayah , ridho wal inayah
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Al - Fakir Kyai Djawan Samudro

Minggu, 13 Oktober 2013

Kyai Djawan Samudro: SESUATU YANG BERMANFAAT BUAT PEMBACA

Kyai Djawan Samudro: SESUATU YANG BERMANFAAT BUAT PEMBACA

TATANAN DUNIA BARU

Assalamu'alaikum Wr Wb
            Seiring berkembangnya jaman, kemajuan tehnologi merambah kepada sendi - sendi keagamaan, Tuhan digugat, Nabi dipertanyakan ,Firman Tuhan diuji dengan segala tingkah polah dan dansa - dansi kata- kata dan tarian geliat tehnologi masa kini, Kelompok - kelompok bermunculan menanamkan pemahaman yang keluar dari konteks agama Samawi, ajaran- ajaran nyleneh mewabah bagaikan cendawan di musim hujan,menghambur tak tentu arah merayu jiwa yang terlena oleh kebodohan karena minimnya keimanan.
           Generasi muda mulai terombang- ambing oleh pemikiran- pemikiran yang menyalahi kaidah - kaidah kebaikan,kelompok - kelompok syetan bersatu padu membentuk Pemerintahan kesesatan, NARKOBA, SEX BEBAS jadi Modal untuk mendanai kelompok - kelompok sesat. berbagai macam cara dan usaha ,tak memandang apa itu menyalahi kaidah agama maupun Norma - norma susila.
            Mereka memaksakan diri membuat tatanan baru dengan isu HAM, KEBEBASAN TAK TERBATAS,Nafsu tak terkendali, HOMOSEX , lesbian, gay,....FREE SEX, ALKOHOL,merajalela seantero dunia,sebagai bentuk penghambaan kepada sang Pemimpin Tatanan Dunia baru.
sudah waktunya Umat Islam kembali kepada Al- Qur'an Hadist dan Pemahaman Salafus Sholeh,
yang mengedepankan Persatuan Umat dalam Konteks Keagamaan Rohmatan Lil Alamin.
            Sudah saatnya membangun - pilar- pilar Pemerintahan KEADILAN Yang akan menuju Kepada Pembentukan PEMIMPIN MASA DEPAN,Yang sebentar lagi Muncul dengan Bendera - bendera Hitam " Al Uqobah ,yang menanamkan Keadilan tanpa memandang Kepicikan dan Pemaksaan Keyakinan , namun tetap seiring sejalan dengan Akidah Yang Benar.
Mari bersatu membimbing Generasi - generasi muda untuk mencintai Uswatun Hasanah Junjungan Sejarah sepanjang jaman, yaitu MUHAMMAD SAW, Yang memberikan dua Senjata Ampuh, Yaitu Al- Qur'an - Hadist.KLIKhttp://adf.ly/XTAGJ
            Akhirnya saya ucapkan Selamat Berjuang membentengi Adik- adik kita dari pemahaman - pemahaman yang keluar dari Konteks yang benar, semoga Alloh SWT, meridloi usaha kita semua
Amin Ya robbal Alamin.